 |
| Prabu Sumilih/ Gathotkaca Ratu (karya Hok Gie) |
Corekan by Hok Gie
Revisi ; Suluh
CERITA :
Raden Hanantareja yang dalam pedalangan cukup dipanggil Anantareja,
mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden
Werkudara dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan
Saptapretala. Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu
Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini
lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar
(patih njaba) negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit.
Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau juga disebut
jangkarbumi. Bersamaan dengan lahirnya Antareja, raja negara jangkarbumi
Prabu Nagabaginda menyerang kagyangan Suralaya. Ia meminta Dewi Supreti
istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya, namun raja
Tribuwana tidak berkenan, namun para dewa tak mampu melawan kesaktian
prabu nagabaginda. Akhirnya Batara Antaboga yang ditunjuk supaya
mmusnahkan Prabu nagabaginda tadi, Antareja yang masih bayi akhirnya
dibawa kakeknya menuju ke medan tempur dan dipertemukan dengan raja
Jangkarbumi.
Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga
menjadi kebal senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan bertambah
dewasa. Akhirnya Prabu nagabaginda dapat dibinasakan oleh Antareja,
negara Jangkarbumi lalu diserahkan kepada putra Bima tersebut. Prabu
Nagabaginda yang tewas itu kemudian menjilma ke tubuh Antareja.
Peristiwa ini mengilhami Antareja ketika membantu adiknya. Arya
Gatutkaca yang menuntut janji raja Tribuwana. Ketika Gatutkaca dapat
menumpas raja Gilingwesi Prabu Pracona dan patih Kala Sekipu, Sanghyang
Guru menjanjikan akan mengangkat Gatutkaca menjadi raja di kahyangan.
Karena ditunggu-tunggu Hyang Guru tidak segera memenuhi janjinya,
Gatutkaca menagih janji dibantu saudaranya, Antareja.
Saat itu Antareja menjadi raja Puserbawana bergelar Prabu
Nagabaginda. Ia menyerang Suralaya sehingga Sanghyang Guru memanggil
Gatutkaca. Sebelum berhadapan dengan Gatutkaca, Prabu nagabaginda
melarikan diri sehingga Gatutkaca kemudian diangkat menjadi raja di
Suralaya bergelar Prabu Sumilih. Prabu Nagabaginda yang lari dari
kahyangan, kemudian menyerang negara Astina. Kurawa kalang kabut
sehingga meminta bantuan kepada Pandawa. Karena Pandawa dan Sri Kresna
juga tidak mampu membendung pasukan perang Puserbuwana, Sri Kresna dan
Arya Bima meminta bantuan kepada Prabu Sumilih. Akhirnya Prabu Sumilih
dan Prabu Nagabaginda berperang, keduanya kembali seperti sediakala
menjadi Arya Gatutkaca dan Raden Antareja.
Antareja mempunyai kesaktian racun/bisa pada air liurnya yang dapat
membinasakan lawan dalam waktu sekejap. Kulitnya yang bersisik
Napakawaca mampu menahan serangan senjata tajam. Ia juga mempunyai
cincin sakti Mustikabumi pemberian dari ibunya untuk tanda bukti bahwa
Antareja adalah putra Dewi Nagagini. Didalam lakon Subadra Larung,
cincin itu diperlihatkan kepada Arya Werkudara ayahnya, sehingga bima
mengakui putranya. Kala itu Antareja terkejut melihat perahu mayat
wanita yang tiada lain adalah Wara Subadra istri Janaka. Dengan cincin
Mustikabumi, Antareja dapat menghidupkan kembali Subadra yang sudah
meninggal karena dibunuh oleh Burisrawa secara tidak sengaja.
Akhirnya, Gatutkaca yang mendapat tugas untuk mengawasi jenazah Wara
Subadra menjadi curiga dan menuduh Antareja yang membunuh bibinya itu.
Keduanya lalu berperang, namun segera dicegah oleh Sri Kresna dan diberi
nasehat bahwa keduanya masih saudara. Wara Subadra sendiri mengaku
bahwa yang membunuh dirinya itu satriya Madyapura Raden Burisrawa, putra
Prabu Salya raja Mandaraka.
Dalam kisah Kresna Gugah, Sri Kresnah merubah dirinya menjadi kumbang
putih dan meninggalkan jasmaninya dalam bentuk raksasa yang sedang
tidur. Roh Sri Kresna berupa kumbah putih itu menyelidiki kitab
Jitabsara yang ditulis oleh Batara Panyarikan. Kitab Jitabsara
mengisahkan Bharatayudha lengkap senopati Kurawa berpasangan dengan
senopati Pandawa. Ketika Prabu Baladewa ditulis memihak Kurawa dan
berhadapan dengan Antareja, Sri Kresna tidak sampai hati, maka ia
menumpahkan tinta hitam tepat mengenai tulisan yang menerangkan pasangan
Baladewa melawan Antareja. Sehingga keduanya gagal dipertemukan dalam
Bharatayudha.
Akhirnya riwayat Antareja dikisahkan dalam lakon Tawur atau pengorbanan
keluarga demi mencapai kejayaan perang. Kurawa tidak rela mengorbankan
salah satu keluarganya, melainkan membunuh Ijrada, tarka dan Sarka,
sedangkan Antareja dan Wisenggani rela mengorbankan diri untuk tumbal
kemenangan pandawa. Antareja rela mati dengan menjiliat telapak kakinya
sendiri dengan anugerah menempati sorgaloka tingkat sembilan (swarga
tunda sanga) milik Sri Kresna.
Antareja Lahir
Di negara Saptapratala, Hyang Anantaboga, resi Abiyasa, para Pandawa,
berkumpul untuk menunggu Dewi Nagagini yang akan melahirkan putera,
berkatalah resi Abiyasa,”Hyang Anantaboga perkenankanlah nagagini saya
bawa ke negara Amarta, jika bayi telah lahir, akan saya serahkan kembali
.” Hyang Anantaboga menyetujuinya, dan berangkatlah Resi Abiyasa dengan
Dewi Nagagini beserta pada Pandawa kembali ke Amarta. Sesampainya di
Amarta telah hadir pula Hyang Kanekaputra dan para bidadari, berkatalah
Hyang Narada,”gara-gara telah terjadi , tak lain dan tak bukan, titahku
resi Abiyasa akan menurunkan ke-alusan-nya Gandamana, lagipula aku
datang di Amarta atas nama Hyang guru, untuk menyaksikan kelahiran bayi
Nagagini”. Tak lama setelah Hyang Narada bersabda, lahirlah bayi dari
kandungan Dewi Nagagini.
Resi Abiyasa diberitahu oleh Hyang Kanekaputra, bahwa Hyang Guru
berkenan memberi nama kepada si bayi: Senaputra, Antarja, lagipula
diberi wahyu kesaktian racun hru pada gigi taringnya si bayi. Untuk
mendapatkan kelemasan ototototnya, diseyogyakan si bayi diadu perang,
dikemudian hari bayi akan menjadi jagonya para dewa. Setelah Hyang
Narada selesai bersabda, kembalilah ke Suralaya diiring pada bidadari .
Negara Amarta pada waktu yang bersamaan , dikepung oleh musuh, raja dari
Paranggumiwang, bernama Prabu Salksadewa, datang akan menuntut balas
dendam kematian ayahnya prabu Kaskaya, yang dibunuh oleh prabu
Pandudewanata, ayah dari Prabu Yudistira dari negara Wanamarta.
Berkatalah Hyang Anantaboga,”Biarlah si Antarja menghadapi musuh dari
Paranggumiwang, Werkudara bimbinglah puteramu ke medan laga”. Prabu
Saksadewa mati oleh Anantareja, prajurit Paranggumiwang, patih
Kalasudarga, emban Saksadewi tak dapat pula menandingi AntarEja, mati
kesemuanya oleh putera Raden Arya Werkudara.
Seluruh istana bersuka cita merayakan kemenangan, Hyang Ananboga membawa cucunya Raden Anatareja kembali ke Saptapratala.
Antareja Takon Bapa
Di kerajaan Astina Prabu Nagabagendo, Begawan Durna menghadap Prabu
Duryudana, oleh Begawan Durna dikatakan bahwa anak muridnya yang bernama
Nagabagendo bersedia menjadi duta untuk membinasakan Pandawa. Setelah
semua mufakat, berangkatlah Begawan Durna diiringi Prabu Nagabagendo
menuju negeri Amarta, namun diperjalanan bertemu dengan R. Sentyaki dan
R. Udawa kesatria dari Dwarawati.
Setelah mengetahui bahwa Prabu Nagabagendo akan menjadi perusuh dan
membahayakan keluarga Pandawa, kedua satria tersebut lalu berperang
dengan Prabu Nagabagendo dam kedua satria digertak Prabu Nagabagendo, R.
Udawa jatuh dilapangan negeri Amarta dan R. Sentyaki jatuh di negeri
Amarta. Begitu R. Sentyaki mendapat dirinya berada di negeri Amarta,
segera melaporkan akan mara bahaya yang akan menimpa pihak Pandawa,
belum selesai melaporkan kejadian yang dialami pihak Pandawa, datang
Prabu Nagabagendo untuk merebut kekuasaan Amarta, maka terjadilah
peperangan dan pihak Pandawa tak ada yang dapat mengalahkan kesaktian
Prabu Nagabagendo.
Akhirnya berdasarkan saran Prabu Kresna, bahwa yang dapat mengalahkan
Prabu Nagabagendo adalah kesatria yang berkulit sisik seperti ular,
maka R. Angkawijaya ditugaskan untuk mencari satria yang dimaksud.
Sementara itu di sumur Jalatunda, R. Pudak Kencana menghadap kakeknya,
Sang Hyang Hanantaboga untuk diberitahu siapa sebenarnya ayahnya dan
dimana berada.
Oleh Sang Hyang Hanantaboga diberitahu bahwa ayahndanya ada di negeri
Amarta bersemayam di Kasatrian Jodipati. Dengan diiringi kakeknya, R.
Pudak Kencana pergi menuju kasatrian Jodipati dan di tengah jalan
bertemulah ia dengan R. Angkawijaya yang sedang mencari jago untuk
melawan Prabu Nagabagendo. Sesampainya di negeri Amarta, R. Pudak
Kencana bertemu dengan R. Werkudara, namun R. Werkudara akan mengakui
sebagai anaknya bila mampu membinasakan Prabu Nagabagendo. Akhirnya R.
Pudak Kencana berperang melawan Prabu Nagabagendo dan binasa, oleh
kakeknya R. Pudak Kencana dapat dihidupkan kembali dengan air kehidupan
yang disebut Tirta Kamandanu serta R. Pudak Kencana diberi kesaktian
Ajian Upas Onto.
Dengan kesaktian Upas Onto, R. Pudak Kencana dapat membinasakan Prabu
Nagabagendo dan bala tentara Kurawa dapat dikalahkan oleh Pandawa
beserta putra-putranya.
Dengan kematian Prabu Nagabagendo negeri Amarta menjadi aman, tentram
dan damai serta R.Pudak Kencana menjadi bagian keluarga besar Pandawa
dan beralih nama R.Antareja.
xxxx
Antareja (versi wikipedia)
Antareja adalah anak dari Werkodara atau Bima dari istri keduanya
Nagagini seorang putri Dewa Antaboga. Dikisahkan dia adalah seorang
satria yang tangguh, sakti mandraguna. Ia mempunyai 2 (dua) orang
saudara lelaki lain ibu, bernama: Raden Gatotkaca, putra Bima dengan
Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu. Sejak
kecil Anatareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar
bumi).
Ia memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya
sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui
kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap
senjata. Ia juga memiliki cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang
mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh
bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di
luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam
bumi.
Anantareja memiliki sifat dan perwatakan : jujur, pendiam, sangat
berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban
dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan
Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di
Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar
Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuda atas
perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur
(korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayudha.