Tampilkan postingan dengan label hok gie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hok gie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

WAYANG KULIT AVATARA

WAYANG KULIT AVATARA

Wayang Kulit Avatara adalah Wayang kulit yang berbentuk/ menceritakan Penjelmaan Dewa Wisnu. 
Dalam kepercayaan Agama Hindu ada 10 Avatara/ Penjelmaan Dewa Wisnu.
Untuk kesempatan ini saya mendapat amanat dari Bapak Budi Santosa - Jember - Jawa Timur untuk mewujudkan beberapa Avatara Dewa Wisnu dalam bentuk Wayang Kulit Purwa Semi Kreasi.
Ide Beliau ini awalnya membuat saya ragu/ galau gundah gulana karena jelas kalau sudah jadi akan menimbulkan pro dan kontra apalagi yang tidak tahu cerita tentang apa itu Avatara.
Tapi setelah mendapat wejangan dan pencerahan dari beliau akhirnya saya memantapkan diri untuk membuat Wayang Avatara ini.


1. KURMA AVATARA

 
KURMA AVATARA by Hok Gie

Dalam agama hindu, Kurma adalah Awatara kedua dewa Wisnu yg berwujud Kura kura raksasa. Awatara ini muncul pada saat masa Satyayuga. Menurut kitab Adiparwa, kura kura tersebut bernama Akupa.
Menurut berbagai kitab Oyrana, Wisnu mengambil wujud seekor kura kura dan mengapung dilautan susu(Kserasagara atau Kserarmawa). Didasar laut tersebut konon terdapat harta karun dan tirta Amerta yg dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para dewa dan Asura berlomba lomba mendapatkannya.


Utk mengaduk lautan tersebut mereka membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Mandara digunakan utk mengaduknya. Para dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan Naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Kurma menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Dewa Endra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat keatas. Setelah sekian lama tirta Amerta berhasil didapat dan dewa Wisnu mengambil alih.
Kurma jg nama dari seorang resi, putra Gretsamada.
#kurmaawatara
#idebybudisantosa
#createdbyhokgie
#hokgiewayangkulit
#savewayangkulitindonesia




2. WARAHA AVATARA


WARAHA AVATARA by Hok Gie

 Waraha adalah Awatara ketiga dari dewa Wisnu yang berwujud babi hutan. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga(zaman kebenaran). Kisah mengenai Waraha Awatara selengkapnya terdapat didalam kitab Warahapurana dan Purana-purana lainnya.

Menurut mitologi Hindu, pada zaman Satyayuga ada seorang raksasa bernama Hiranyaksa, adik raksasa Hiranyakasipu. Keduanya merupakan kaum Detya(raksasa). Hiranyaksa hendak menenggelamkan pertiwi/planet Bumi kedalam "lautan kosmik" suatu tempat diantah berantah diruang angkasa.
Melihat dunia akan mengalami kiamat, Wisnu menjelma menjadi babi hutan yg memiliki dua taring panjang mencuat dgn tujuan menopang bumi yg dijatuhkan oleh Hiranyaksa. Usaha penyelamatan yg dilakukan Waraha tidak berlangsung lancar karena dihadang oleh Hiranyaksa. Maka terjadilah pertempuran sengit antara raksasa Hiranyaksa dgn dewa Wisnu. konon pertarungan ini terjadi ribuantahun yang lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya Dewa Wisnu yang menang.
Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat bumi yg bulat seperti bola dengan dua taringnya yg panjang mencuat, dari lautan kosmik dan meletakkan bumi pd orbitnya. Setelah itu dewa Wisnu menikahi Dewi Pertiwi dalam wujud Awatara tersebut.
#warahaawatara
#idebybudisantosa
#createdbyhokgie
#hokgiewayangkulit
#savewayangkulitindonesia




Senin, 09 Mei 2016

SANG HYANG BETHARA BRAMA

Bethara Brama

Corekan by Hok Gie


CERITA :
Sang Hyang Brama adalah Dewa api (brama berarti api), putra Hyang Guru. Ia bersemayam di Deksina. Karena kesaktiannya Hyang Brama dapat membasmi segala keburukan yang menjelekkan dunia ini dengan apinya. Ketika Dewa ini dilahirkan besar pengaruhnya terhadap dunia mengeluarkan api hingga menjulang ke angkasa. Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi Saraswati, putri Hyang Pancaweda yang terkenal karena sangat cantiknya. Dewa ini pernah bertakhta sebagai raja di Gilingwesi setewasnya Prabu Watugunung. Dewa yang bertakhta sebagai raja di dunia disebut ngejawantah, menampakkan diri. Suatu ketika Hyang Brama menyalahi adat-istiadat Dewa karena memihak pada Betari Durga dan bermaksud untuk memusnakan keluarga Pendawa. Kehendak Betara Brama dimufakati oleh Durga. Sampai sampai juga putri Hyang Brama, Dewi Dresanala yang diperistri oleh Arjuna, diceraikan oleh Hyang Brama. Kehendak Hyang Brama untuk memusnakan keluarga Pendawa terkabul. Malahan Hyang Brama dapat dikalahkan oleh anak Arjuna yang bernama Wisanggeni. Hyang Brama ditangkap oleh Wisanggeni dan diserahkan kepada Hyang Guru. Setibanya di hadapan Guru, Betara Brama menjadi sadar akan kekeliruannya. Ia diampuni oleh Hyang Guru dan kembali ke tempat kediaman para Dewa Kahyangan. Menurut lakon ini meski Dewa sekalipun, kalau bersalah, bisa kalahkan oleh manusia biasa. Sang Hyang Brama merupakan pangkal yang menurunkan Pendawa dan ia berbesan dengan Hyang Wisnu. Sang Hyang Brama bermata kedondongan. Berhidung sembada (serba cukup) dan berbibir rapat. Ia bermahkota, menandakan bahwa ia Dewa yang berkuasa. Ia tidak menyelipkan keris secara yang biasa dilakukan orang, melainkan diselipkannya di depan, oleh karena ia memakai haju yang menutupi bagian belakang badannya. Memakai keris semacam itu disebut yang berarti syak wasangka selalu, sehingga setiap waktu ada bahaya keris itu mudah dihunus. Memakai keris secara demikian dilarang ole penjaga kerajaan, oleh karena si pemakainya dianggap mencuri. Menurut riwayat ini nampak, bahwa Dewa sekalipun bisa mengalami masa kalahnya dalam menghadapi manusia biasa, ini menandakan bahwa kebenaranlah yang selalu menang atas perbuatan salah manusia. Selagi Hyang Guru sebagai Dewa yang tertinggi bisa mengalami kekalahannya juga terhadap manunia biasa, hal itu disebabkan kerena salahnya perbuatan

SANG HYANG BETHARA NARADA

Bethara Narada (karya Hok Gie)


Corekan by Hok Gie

CERITA :
Narada dalam pewayangan, antara lain yang berkembang di Jawa, dilukiskan dengan bentuk tubuh cebol bulat, berwajah tua, dengan kepala menengadah ke atas. Dalam versi ini narada menduduki jabatan penting dalam kahyangan, yaitu sebagai penasihat dan "tangan kanan" Batara Guru, raja kahyangan versi Jawa.

Menurut naskah Paramayoga, Batara Narada adalah putra Sanghyang Caturkaneka. Ayahnya adalah sepupu Sanghyang Tunggal, ayah dari Batara Guru. Pada mulanya Narada berwujud tampan. Ia bertapa di tengah samudera sambil memegang pusaka pemberian ayahnya, bernama cupu Linggamanik. Hawa panas yang dipancarkan Narada sempat membuat kahyangan geger. Batara Guru mengirim putra-putranya untuk membangunkan Narada dari tapanya. Akan tetapi tidak seorang pun dewa yang mampu memenuhi perintah tersebut. Mereka terpaksa kembali dengan tangan hampa. Batara Guru memutuskan untuk berangkat sendiri untuk menghentikan tapa Narada. Narada pun terbangun. Keduanya kemudian terlibat perdebatan seru. Batara Guru yang merasa kalah pandai marah dan mengutuk Narada sehingga berubah wujud menjadi jelek. Sebaliknya, karena Narada telah dikutuk tanpa penyebab yang jelas, Batara Guru pun menderita cacad berlengan empat.(Sebenarnya bertangan 4 ini adalah pengejawantahan dari malaikat papat, Jibril Mikail Izrail Israfil). Ia pun sadar bahwa Narada memang lebih pandai darinya. Maka, ia pun memohon maaf dan meminta Narada supaya sudi tinggal di kahyangan sebagai penasihatnya.

Dalam pentas pedalangan, tempat tinggal Batara Narada disebut dengan nama Kahyangan Sidiudal-udal. Atau Sidik pangudal udal.
Narada (Dewanagari: नारद; IAST: Nārada) atau Narada Muni adalah seseorang yang bijaksana dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah Purana, khususnya Bhagawatapurana. Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Ia selalu membawa alat musik yang dikenal sebagai tambura, yang pada mulanya dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Dewa Wisnu atau Kresna. Dalam tradisi Waisnawa ia memiliki rasa hormat yang istimewa dalam menyanyikan nama Hari dan Narayana dan proses pelayanan didasari rasa bakti yang diperlihatkannya, dikenal sebagai bhakti yoga seperti yang dijelaskan dalam kitab yang merujuk kepadanya, yang dikenal sebagai Narad Bhakti Sutra.
Menurut legenda, Narada dipandang sebagai Manasputra, merujuk kepada kelahirannya 'dari pikiran Dewa Brahma', atau makhluk hidup pertama seperti yang digambarkan dalam alam semesta menurut Purana. Ia dihormati sebagai Triloka sanchaari, atau pengembara sejati yang mengarungi tiga dunia yaitu Swargaloka (surga), Mrityuloka (bumi) dan Patalloka (alam bawah). Ia melakukannya untuk menemukan sesuatu mengenai kehidupan dan kemakmuran orang. Ia orang pertama yang melakukan Natya Yoga. Ia juga dikenal sebagai Kalahapriya.

Bethara Narada (karya Hok Gie)
Narada Muni memiliki posisi penting yang istimewa di antara tradisi Waisnawa. Dalam kitab-kitab Purana, ia termasuk salah satu dari dua belas Mahajana, atau 'pemuja besar' Dewa Wisnu. Karena ia adalah gandharva dalam kehidupan dahulu sebelum ia menjadi Resi, ia berada dalam kategori Dewaresi.
Bhagawatapurana menceritakan pencerahan spiritual yang dialami Narada: Dalam kehidupannya yang dulu, Narada adalah gandarwa (sejenis malaikat) yang dikutuk agar lahir di planet bumi karena melanggar sesuatu. Maka ia kemudian lahir sebagai putera seorang pelayan yang khusus melayani pendeta suci (brahmin). Para pendeta yang berkenan dengan pelayanan Narada dan ibunya, memberkahinya dengan mengizinkannya memakan sisa makanan mereka (prasad) yang sebelumnya dipersembahkan kepada dewa mereka, yaitu Wisnu.

Perlahan-lahan Narada menerima berkah dan berkah lagi dari para pendeta tersebut, dan mendengarkan mereka memperbincangkan banyak topik mengenai spiritual. Lalu pada suatu hari, ibunya meninggal karena digigit ular, dan karena menganggap itu adalah perbuatan Dewa (Wisnu), ia memutuskan untuk pergi ke hutan demi mencari pencerahan agar memahami 'Kebenaran yang paling mutlak'.

Ketika di dalam hutan, Narada menemukan tempat yang tenang, dan setelah melepaskan dahaga dari sungai terdekat, ia duduk di bawah pohon dan bermeditasi (yoga), berkonsentrasi kepada wujud paramatma Wisnu di dalam hatinya, seperti yang pernah diajarkan oleh para pendeta yang pernah dilayaninya. Setelah beberapa lama, Narada melihat sebuah penampakan, dimana Narayana (Wisnu) muncul di depannya, tersenyum, dan berkata bahwa 'meskipun ia memiliki anugerah untuk melihat wujud tersebut pada saat itu juga, Narada tidak akan dapat melihat wujudnya (Wisnu) lagi sampai ia mati'. Narayana kemudian menjelaskan bahwa kesempatan yang diberikan agar Narada dapat melihat wujudnya disebabkan oleh keindahan dan rasa cintanya, dan akan menjadi sumber inspirasi dan membakar keinginannya yang terlelap untuk bersama sang dewa lagi. Setelah memberi tahu Narada dengan cara tersebut, Wisnu kemudian menghilang dari pandangannya. Narada bangun dari meditasinya dengan terharu sekaligus kecewa.

Selama sisa hidupnya Narada memusatkan rasa baktinya, bermeditasi, dan menyembah Wisnu. Setelah kematiannya, Wisnu menganugerahinya dengan wujud spiritual "Narada", yang kemudian dikenal banyak orang. Dalam beberapa susastra Hindu, Narada dianggap sebagai penjelmaan (awatara) dewa, dan berkuasa untuk melakukan tugas-tugas yang ajaib atas nama Wisnu.

SANG HYANG BETHARA KAMAJAYA

Sang Hyang Bethara Kamajaya (karya Hok Gie)


Corekan by Hok Gie

CERITA :

Sang Hyang Kamajaya atau Kamadewa adalah anak Semar (Hyang Ismaya) dan Dewi Sri. Ia Dewa cinta dan berparas elok sekali. Kamajaya beristrikan Dewi Kamaratih, putri Sang Hyang Resi Soma. Dewi ini sebangsa bidadari yang sangat cantiknya. Kamajaya dan Kamaratih tak pernah berpisahan.

Dewa dan Dewi ini senantiasa menjaga keselamatan umat manusia di dunia ini, terutama keluarga Pendawa. Kamajaya malahan disebut juga Dewanya Arjuna, oleh karena ia sangat sayang pada Arjuna.

Di dalam Lakon Cekel Indralaya, Arjuna menjadi pendeta dan Kamajaya datang ke Dwarawati menyamar sebagai Arjuna untuk menentang Korawa yang akan datang menggoda Dewi Wara Sumbadra, istri Arjuna.

Menurut kepercayaan orang Jawa, pada waktu seorang wanita hamil untuk pertama kalinya dan diadakan selamatan hamil tujuh bulan (Jawa: mitoni), maka disajikan juga sebuah kelapa gading yang digambar Kamajaya dan Kamaratih dengan harapan semoga mendapat berkah dari Dewa dan Dewi itu.

Sang Hyang Kamajaya bermata jaitan, berhidung mancung, dan bergigi hitam karena sisik. Berpakaian seperti Dewa, tapi pada bagian kepala tampak sebagai ksatria. Dia bersemayam di Cakrakembang tempat tersendiri bagi Kamajaya dan Kamaratih.

Bethara Kamajaya (kreasi Hok Gie)
Pada acara mitoni atau tujuh bulan (kandungan istri berusia 7 bulan), kelapa muda yg hendak dipecahkan ayah calon bayi sering dilukiskan atau dituliskan nama Kamajaya. Sebagai wujud dari buah cinta.

KAYON/ GUNUNGAN KREASI KU


1. KAYON GANESHA LOKA BAWANA
Kayon Ganesha Loka Bawana (karya Hok Gie)
Kayon Ganesha Loka Bawana (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie


2. KAYON WAHYU

Kayon Wahyu (karya Hok Gie)

Kayon Wahyu (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie


3. KAYON KLENTENG
Kayon Klenteng/ Budha (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie


4. KAYON GAPURA
Kayon Gapura (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie

5. KAYON SHIVA LOKA BUANA
Kayon Shiva Loka Buana (karya Hok Gie)

Kayon Shiva Loka Buana (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie




5. KAYON GAPURA LANGIT ( Kayon Mandarin/ Klenteng )


Kayon Gapura langit ( Kayon Sakyamuni Budha & Avalokitesvara Boddhisattva) Kreasi by Hok Gie


Kayon Gapura langit ( Kayon Sakyamuni Budha & Avalokitesvara Boddhisattva) Kreasi by Hok Gie





PRABU SUMILIH/ GATHOTKACA RATU

Prabu Sumilih/ Gathotkaca Ratu (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie
Revisi ; Suluh


CERITA :
Raden Hanantareja yang dalam pedalangan cukup dipanggil Anantareja, mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar (patih njaba) negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit.

Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau juga disebut jangkarbumi. Bersamaan dengan lahirnya Antareja, raja negara jangkarbumi Prabu Nagabaginda menyerang kagyangan Suralaya. Ia meminta Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya, namun raja Tribuwana tidak berkenan, namun para dewa tak mampu melawan kesaktian prabu nagabaginda. Akhirnya Batara Antaboga yang ditunjuk supaya mmusnahkan Prabu nagabaginda tadi, Antareja yang masih bayi akhirnya dibawa kakeknya menuju ke medan tempur dan dipertemukan dengan raja Jangkarbumi. Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga menjadi kebal senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan bertambah dewasa. Akhirnya Prabu nagabaginda dapat dibinasakan oleh Antareja, negara Jangkarbumi lalu diserahkan kepada putra Bima tersebut. Prabu Nagabaginda yang tewas itu kemudian menjilma ke tubuh Antareja.
 Peristiwa ini mengilhami Antareja ketika membantu adiknya. Arya Gatutkaca yang menuntut janji raja Tribuwana. Ketika Gatutkaca dapat menumpas raja Gilingwesi Prabu Pracona dan patih Kala Sekipu, Sanghyang Guru menjanjikan akan mengangkat Gatutkaca menjadi raja di kahyangan. Karena ditunggu-tunggu Hyang Guru tidak segera memenuhi janjinya, Gatutkaca menagih janji dibantu saudaranya, Antareja.
Saat itu Antareja menjadi raja Puserbawana bergelar Prabu Nagabaginda. Ia menyerang Suralaya sehingga Sanghyang Guru memanggil Gatutkaca. Sebelum berhadapan dengan Gatutkaca, Prabu nagabaginda melarikan diri sehingga Gatutkaca kemudian diangkat menjadi raja di Suralaya bergelar Prabu Sumilih. Prabu Nagabaginda yang lari dari kahyangan, kemudian menyerang negara Astina. Kurawa kalang kabut sehingga meminta bantuan kepada Pandawa. Karena Pandawa dan Sri Kresna juga tidak mampu membendung pasukan perang Puserbuwana, Sri Kresna dan Arya Bima meminta bantuan kepada Prabu Sumilih. Akhirnya Prabu Sumilih dan Prabu Nagabaginda berperang, keduanya kembali seperti sediakala menjadi Arya Gatutkaca dan Raden Antareja.
Antareja mempunyai kesaktian racun/bisa pada air liurnya yang dapat membinasakan lawan dalam waktu sekejap. Kulitnya yang bersisik Napakawaca mampu menahan serangan senjata tajam. Ia juga mempunyai cincin sakti Mustikabumi pemberian dari ibunya untuk tanda bukti bahwa Antareja adalah putra Dewi Nagagini. Didalam lakon Subadra Larung, cincin itu diperlihatkan kepada Arya Werkudara ayahnya, sehingga bima mengakui putranya. Kala itu Antareja terkejut melihat perahu mayat wanita yang tiada lain adalah Wara Subadra istri Janaka. Dengan cincin Mustikabumi, Antareja dapat menghidupkan kembali Subadra yang sudah meninggal karena dibunuh oleh Burisrawa secara tidak sengaja.
 Akhirnya, Gatutkaca yang mendapat tugas untuk mengawasi jenazah Wara Subadra menjadi curiga dan menuduh Antareja yang membunuh bibinya itu. Keduanya lalu berperang, namun segera dicegah oleh Sri Kresna dan diberi nasehat bahwa keduanya masih saudara. Wara Subadra sendiri mengaku bahwa yang membunuh dirinya itu satriya Madyapura Raden Burisrawa, putra Prabu Salya raja Mandaraka. Dalam kisah Kresna Gugah, Sri Kresnah merubah dirinya menjadi kumbang putih dan meninggalkan jasmaninya dalam bentuk raksasa yang sedang tidur. Roh Sri Kresna berupa kumbah putih itu menyelidiki kitab Jitabsara yang ditulis oleh Batara Panyarikan. Kitab Jitabsara mengisahkan Bharatayudha lengkap senopati Kurawa berpasangan dengan senopati Pandawa. Ketika Prabu Baladewa ditulis memihak Kurawa dan berhadapan dengan Antareja, Sri Kresna tidak sampai hati, maka ia menumpahkan tinta hitam tepat mengenai tulisan yang menerangkan pasangan Baladewa melawan Antareja. Sehingga keduanya gagal dipertemukan dalam Bharatayudha.
Akhirnya riwayat Antareja dikisahkan dalam lakon Tawur atau pengorbanan keluarga demi mencapai kejayaan perang. Kurawa tidak rela mengorbankan salah satu keluarganya, melainkan membunuh Ijrada, tarka dan Sarka, sedangkan Antareja dan Wisenggani rela mengorbankan diri untuk tumbal kemenangan pandawa. Antareja rela mati dengan menjiliat telapak kakinya sendiri dengan anugerah menempati sorgaloka tingkat sembilan (swarga tunda sanga) milik Sri Kresna.
 Antareja Lahir
Di negara Saptapratala, Hyang Anantaboga, resi Abiyasa, para Pandawa, berkumpul untuk menunggu Dewi Nagagini yang akan melahirkan putera, berkatalah resi Abiyasa,”Hyang Anantaboga perkenankanlah nagagini saya bawa ke negara Amarta, jika bayi telah lahir, akan saya serahkan kembali .” Hyang Anantaboga menyetujuinya, dan berangkatlah Resi Abiyasa dengan Dewi Nagagini beserta pada Pandawa kembali ke Amarta. Sesampainya di Amarta telah hadir pula Hyang Kanekaputra dan para bidadari, berkatalah Hyang Narada,”gara-gara telah terjadi , tak lain dan tak bukan, titahku resi Abiyasa akan menurunkan ke-alusan-nya Gandamana, lagipula aku datang di Amarta atas nama Hyang guru, untuk menyaksikan kelahiran bayi Nagagini”. Tak lama setelah Hyang Narada bersabda, lahirlah bayi dari kandungan Dewi Nagagini.
Resi Abiyasa diberitahu oleh Hyang Kanekaputra, bahwa Hyang Guru berkenan memberi nama kepada si bayi: Senaputra, Antarja, lagipula diberi wahyu kesaktian racun hru pada gigi taringnya si bayi. Untuk mendapatkan kelemasan ototototnya, diseyogyakan si bayi diadu perang, dikemudian hari bayi akan menjadi jagonya para dewa. Setelah Hyang Narada selesai bersabda, kembalilah ke Suralaya diiring pada bidadari . Negara Amarta pada waktu yang bersamaan , dikepung oleh musuh, raja dari Paranggumiwang, bernama Prabu Salksadewa, datang akan menuntut balas dendam kematian ayahnya prabu Kaskaya, yang dibunuh oleh prabu Pandudewanata, ayah dari Prabu Yudistira dari negara Wanamarta.
 Berkatalah Hyang Anantaboga,”Biarlah si Antarja menghadapi musuh dari Paranggumiwang, Werkudara bimbinglah puteramu ke medan laga”. Prabu Saksadewa mati oleh Anantareja, prajurit Paranggumiwang, patih Kalasudarga, emban Saksadewi tak dapat pula menandingi AntarEja, mati kesemuanya oleh putera Raden Arya Werkudara.
Seluruh istana bersuka cita merayakan kemenangan, Hyang Ananboga membawa cucunya Raden Anatareja kembali ke Saptapratala.
Antareja Takon Bapa
Di kerajaan Astina Prabu Nagabagendo, Begawan Durna menghadap Prabu Duryudana, oleh Begawan Durna dikatakan bahwa anak muridnya yang bernama Nagabagendo bersedia menjadi duta untuk membinasakan Pandawa. Setelah semua mufakat, berangkatlah Begawan Durna diiringi Prabu Nagabagendo menuju negeri Amarta, namun diperjalanan bertemu dengan R. Sentyaki dan R. Udawa kesatria dari Dwarawati.
 Setelah mengetahui bahwa Prabu Nagabagendo akan menjadi perusuh dan membahayakan keluarga Pandawa, kedua satria tersebut lalu berperang dengan Prabu Nagabagendo dam kedua satria digertak Prabu Nagabagendo, R. Udawa jatuh dilapangan negeri Amarta dan R. Sentyaki jatuh di negeri Amarta. Begitu R. Sentyaki mendapat dirinya berada di negeri Amarta, segera melaporkan akan mara bahaya yang akan menimpa pihak Pandawa, belum selesai melaporkan kejadian yang dialami pihak Pandawa, datang Prabu Nagabagendo untuk merebut kekuasaan Amarta, maka terjadilah peperangan dan pihak Pandawa tak ada yang dapat mengalahkan kesaktian Prabu Nagabagendo.
Akhirnya berdasarkan saran Prabu Kresna, bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Nagabagendo adalah kesatria yang berkulit sisik seperti ular, maka R. Angkawijaya ditugaskan untuk mencari satria yang dimaksud. Sementara itu di sumur Jalatunda, R. Pudak Kencana menghadap kakeknya, Sang Hyang Hanantaboga untuk diberitahu siapa sebenarnya ayahnya dan dimana berada.
Oleh Sang Hyang Hanantaboga diberitahu bahwa ayahndanya ada di negeri Amarta bersemayam di Kasatrian Jodipati. Dengan diiringi kakeknya, R. Pudak Kencana pergi menuju kasatrian Jodipati dan di tengah jalan bertemulah ia dengan R. Angkawijaya yang sedang mencari jago untuk melawan Prabu Nagabagendo. Sesampainya di negeri Amarta, R. Pudak Kencana bertemu dengan R. Werkudara, namun R. Werkudara akan mengakui sebagai anaknya bila mampu membinasakan Prabu Nagabagendo. Akhirnya R. Pudak Kencana berperang melawan Prabu Nagabagendo dan binasa, oleh kakeknya R. Pudak Kencana dapat dihidupkan kembali dengan air kehidupan yang disebut Tirta Kamandanu serta R. Pudak Kencana diberi kesaktian Ajian Upas Onto.
 Dengan kesaktian Upas Onto, R. Pudak Kencana dapat membinasakan Prabu Nagabagendo dan bala tentara Kurawa dapat dikalahkan oleh Pandawa beserta putra-putranya.
Dengan kematian Prabu Nagabagendo negeri Amarta menjadi aman, tentram dan damai serta R.Pudak Kencana menjadi bagian keluarga besar Pandawa dan beralih nama R.Antareja.
xxxx
Antareja (versi wikipedia)
Antareja adalah anak dari Werkodara atau Bima dari istri keduanya Nagagini seorang putri Dewa Antaboga. Dikisahkan dia adalah seorang satria yang tangguh, sakti mandraguna. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu, bernama: Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu. Sejak kecil Anatareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar bumi).
Ia memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.
Anantareja memiliki sifat dan perwatakan : jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuda atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayudha.






RATU SABRANGAN


Ratu Sabrangan (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie

CERITA :
Ratu sabrangan biasa digunakan untuk tokoh-tokoh raja/ ratu dari tanah sebrang/ negri manca. Biasa tokoh ini digunakan dalam lakon carangan atau pun pakem. Sebagai bala bantuan dari pihak kurawa ataupun musuh lain.

PRABU SASRAWINDU

PRABU SASRAWINDU (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie

CERITA:
alkisah negara hastina geger kembali. karena kedatangan raja sosrowindu yang menginginkan menjadi senopati hastina mewakili kurawa. prabu duryudana menerima prabu sosrowindu karena atas usulan resi durna. karena prabu sosrowindu itu adalah termasuk murid dari resi dorna.

prabu sosrowindu memiliki sarat akan mau membantu kurawa memusnahkan pandawa jika dia diberi kesempatan membunuh musuh bebuyutanya yaitu prabu baladewa.tentu saja sarat ini membuat gempar para kurawa.karena memang prabu baladewa terkenal dekat dengan pihak hastina.patih sengkuni pun bahkan memberikan usulan agar tidak membuat kasus dengan sesama barisan kurawa.karena dikuatirkan membuat barisan kurawa tidak solid dalam menghadapi barata yudha jaya binangun. tapi resi dorna membela prabu soro windu.dia berkata bahwa baladewa tidak loyal kepada kurawa.dia memebrikan alasan sering prabu mandura itu tidak datang kalo ada paseban agung di kerajaan hastina seperti hari itu.ini menandakan ketidak setiaan baladewa.prabu sosro windu meyakinkan bahwa permintaanya itu adalah sewajarnya.sebagai bentuk balas dendam,atas gugurnya ayahnya kangsadewa ditangan baladewa.karena itu wajar saja jika dia meminta sarat kematian baladewa.
 prabu duryodana bingung.dia bertanya kepada raja anga karna.raja anga berkata bahwa sebaiknya permintaan itu diloloskan.dengan sarat.jika tidak berhasil maka sosro windu harus dibunuh,atau menerima hukuman mati karena membuat geger di kubu kurawa menjelang barata yudha.ditakutkan barisan kurawa justru menjadi tidak solid karena kejadian ini.tapi jika berhasil maka sosro windu akan langsung diangkat menjadi senopati.dengan pertimbangan berhasil membunuh prabu baladewa berarti memiliki kesaktian tinggi dan bisa digunakan menumpas pandawa dalam perang barata yudha…
pasukan sosrowindu bergerak ke mandura setelah mendapat persetujuan prabu duryudana.sementara itu wadya bala kurawa dibawah pimpinan raja anga karna menyusul.dengan misi mengangkat sosro windu kalo berhasil dan menghukum langsung kalo gagal.pasukan sosrowindu diikuti oleh resi dorna sedang pasukan kurawa dikawal patih sengkuni.sebelum masuk ke tapal batas mandura resi dorna berbincang dengan sosrowindu.dia bertanya sebaiknya menggunakan cara apa menghadapi prabu mandura itu.cara diam diam atau cara keras..
cara keras adalah dengan membawa wadya bala pasukan sosro windu langsung melabrak mandura dan menantang prabu baladewa secara langsung.cara ini akan mengakibatkan pertumpahan darah besar besaran di kedua belah pihak.cara kedua adalah dengan menggunakan cara diam diam,cara apus apus atau licik.dengan cara sang resi masuk ke sitinggil mandura dan bertemu langsung dengan prabu baladewa,untuk diajak ke negeri hastina.dengan tujuan nanti setelah mau di tengah jalan dikeroyok sampai tewas.prabu sosro bahu mensetujui cara yang kedua.
 di sitinggil mandura datang gatotkaca. gatotkaca datang meminta prabu baladewa untuk datang ke ngamarta karena permintaan dari semua pandawa dan adiknya kresna. hal ini dimaksudkan untuk mengganti sementara posisi kresna yang sedang bertapa di wukir untuk mendapatkan wahyu kemenangan bagi pandawa dalam perang baratayudha.
prabu baladewa menerima ajakan gatotkaca.dia sekaligus menceritakan bagaimana keadaan hastina.dia merasa bahwa prabu sosrowindu musuh lamanya itu mulai mendapat hati di kalangan kurawa.karena itu baladewa berniat untuk keluar dari lingkup kekuasaan dan persahabatan dengan kurawa.belum selesai prabu baladewa berucap tiba tiba datang menghadap resi dorna.
resi dorna menghaturkan sembah.keatangan resi dorna di dampingi sengkuni.resi dorna berbisik bisik kepada sengkuni sambil melihat ke arah gatotkaca.mereka sibuk berbisik bisik tentang kemungkinan baladewa berhianat pada kurawa dengan hadirnya kesatria pringgodani di sitinggil mandura.resi dorna segera mengucapkan maksud kedatanganya kepada prabu baladewa.yaitu bermaksud mengundang sang prabu baladewa ke sitinggil hastinapura untuk menghadiri paseban agung yang diadakan prabu duryudana.
prabu baladewa tanpa basa basi menolak undangan itu sambil mengatakan alasan kenapa menolak undangan pra kurawa.yaitu karena kabar telah tersiar bahwa musuhnya prabu sosro windu telah diangkat menjadi senopati di hastina,sedang sosrowindu adalah musuh bebuyutan sang prabu baladewa.resi dorna berusaha meyakinkan prabu baladewa tapi gagal.bahkan ahirnya terjadi adu jotos yang berahir koncatnya sang resi dorna keluar sitinggil.
gatotkaca disuruh oleh baladewa untuk menghadapi resi dorna.perang terjadi dan berkali kali resi dorna harus mundur menghadapi kesaktian sang satria pringgondani.karena terus menerus terdesak resi dorna memanggil prabu sosro windu.dalam pertempuran pertama prabu sosro windu terpental jauh kebelakang dan harus mengakui kekuatan gatotkaca.ahirnya dia mengambil senjata pusakanya.yaitu panah kemlandingan putih.panah ini berubah menjadi rantai super kuat yang melilit tubuh gatot kaca.seketika gatotkaca tak berdaya dan dibawa ke hastina untuk dimasukan ke dalam penjara.
mendengar gatotkaca dikalahkan maka baladewa naik darah.dia segera turun laga.dibawanya senjata nanggalanya yang sanggup menggempur gunung.mengetahui kedatangan baladewa prabu sosro windu menjadi waspada.apalagi kelebat nanggala membuat jantung sosro windu ketar ketir.ahirnya setelah bisa mengambil jarak yang cukup prabu sosro windu menembakan senjata kemlandingan putihnya.dan terlilitlah tubuh baladewa.tak berdaya.sebelumnya prabu sosrowindu hendak membunuhnya.tapi oleh dorna dicegah.karena mengetahui bahwa baladewa punya adik batara kresna yang mempunyai kembang wijaya kusuma yang mampu menyembuhkan penyakit apapun,bahkan mampu menghidupkan orang mati.jika baladewa dibunuh tentu akan sangat mudah bagi kresna untuk menghidupkanya kembali.maka cara satu satunya adalah meringkus kresna yang sedang semedi di gunung wukir.
baladewa dibawa dan dimasukan tahanan di hastina.pasukan sosro windu bergerak ke gunung wukir bersama resi dorna.pasukan dengan cepat measuk ke dalam daerah yang dikenal angker dan tak pernah dikunjungi manusia itu.sementara di pertapan gunung wukir telah bersiaga sepasukan dari dwarawati yang mengikuti dan mengawal prabunya yaitu prabu sri kresna.dipimpin oleh patih udawa,patih setyaki,dan resi mayangkoro hanoman.mereka tampak bersiaga penuh agar tak terjadi sesuatu yang dapat menggagalkan tapa junjunganya.
tiba tiba tempat pertapaan dikepung pasukan sosro windu.resi mayangkoro maju dan menghadang dengan gagah.setelah bertempur sedemikian lama dan susah.dan setelah mundur terdesak maka sosro windu mengeluarkan ajian seipi anginya.langsung keluar badai dahsyat yang menghantam resi mayangkoro anoman.anoman mencelat kontal sejauh jauhnya.melihat anoman kontal sang setyaki maju.dia melawan dengan ganas sosro windu.pertarungan terjadi seimbang.dan lagi lagi kemlandingan putih membuat setyaki tak berdaya dan dibawa sebagai tawanan ke tahanan hastina pura.
 melihat setyaki kalah.maka resi mayangkoro memberi perintah kepada patih udawa dan prajurit dwarawati untuk menyingkir dan meminta bantuan ke ngamarta.di dalam pertapaan prabu kresna menekung,meditasi dan melepaskan sukma sedjatinya.sukmanya melayang hendak menemui dewata.sebelum lepas sukmanya dia berpamitan kepada badan wadagnya.sang raga sedjati.dan bersamaand engan itu masuklah sosro windu ke dalam pertapaan.durna menyuruh ssosro windu membangunkan sang kresna.ternyata ditemukan bahwa wadag kresna telah kosong.tanpa nyawa.maka resi dorna mempunyai akal baru.disuruhnya sosoro windu mengambil pakaian kresna berikut semua senjatanya termasuk senjata cakra dan kembang wijaya kusuma.dan berganti rupa menjadi kresna untuk pergi ke ngamarta dan menipu para pandawa agar mau mengalah menyerahkan kerajaan kepada duryudana.
tubuh krisna yang sudah diacak acak pakaianya itu ternyata masih terdapat lima anasir.dan juga empat nafsu.maka tiba tiba sang tubuh yang dipanggil raga jati itu menangis sekaligus marah.dan menjelmalah tubuh tanpa sukma sedjati kresna itu menjadi seekor singa besar yang berwarna hitam mulus.singa ini memiliki keinginan untuk menyelamatkan para pandawa dari reka daya prabu sosro windu yang telah berubah wujud menjadi krisna.maka sang singa ini pergi ke istana kurawa dan berdiam bersembunyi di gerumbul dekat istana hastina.mengawasi kalo kalo pandawa datang terbujuk dia bermaksud mencegahnya.
cerita berlanjut,krisna gadungan sampai di ngamarta.disana dia berkata bahwa hasil semedi menyatakan bahwa tidak boleh terjadi pertumpahan darah.dan jalan satu satunya adalah menyerahkan tuntutan negara hastina sepenuhnya kepada raja duryudana.seperti biasa puntadewa menyetujui,karena di depan mereka yang tampak adalah krisna maka bima,arjuna,nakula setuju.sementara sadewa saja yang tak menyetujui dan kabur dari sitinggil karena menolak permintaan saudara saudaranya merelakan tuntutan atas negara hastina.
sadewa minta perlindungan pada semar.sementara bima yang murka menyuruh anaknya antaredja menyusul sang sadewa.semar yang bijak sadar dan tahu bahwa itu bukan krisna tapi prabu sosrowindu yang beralih rupa.maka dia bertekad melindungi sadewa dari salah paham.raden antaredja datang dan disongsong punakawan.antaredja berhadapan dengan petruk.oleh petruk antaredja diobat abitkan seperti kertas.dan raden antaredja sampai menjerit tobat.tapi setelah diturunkan oleh petruk antaredja tak mau mundur.dia malah menyungut sekujur tubuh petruk.petruk yang kewalahan mundur.
 bagong maju dengan taktik melumuri tubuhnya dengan lumpur.pertama antaredja melihat itu tak mau menyungut.tapi setelah dilihat mata bagong tidak tertutup lumpur matanya disungut.ahirnya mata bagong diteplok lumpur juga dan antaredja kewalahan diusel usel oleh bagong sampai bajunya dan tubuhnya penuh lumpur.datang werkudoro dengan marah.dan berlarian semua punakawan.sadewa tetap tak mau menyerah dan tunduk pada permintaan krisna palsu itu.karena naik pitam maka bima menghajar sadewa dan dilempar jauh.
alkisah di atas langit sukma sedjati kresna bertemu batara guru.batara guru menyanggupi akan menurunkan wahyu kemenangan baratayudha di kurusetra.kresna pun hendak turun,dan dia mendapat kabar bahwa telah terjadi keributan di dunia yang bakal mengancam kelangsungan perang baratayudha jika puntadewa dan pandawa rela melepas tuntutan atas negeri hastina.sementara puntadewa telah berjalan ke negeri hastina.karena tahu bahwa tubuhnya telah menjadi salah mangsa dan tak mungkin sukma sedjati sang krisna kembali ke wadag saat itu maka batara guru menjadikan sukma sejati krisna menjadis ebuah bentuk baru yang diberi nama begawan sukmo lelono.dia ditugaskan ke hastina untuk meminta negeri hastina secara paksa dari prabu duryudana.
dalam perjalanan begawan sukmo lelono bertemu punakawan dan semar.walau sudah berbentuk sukma,semar dan punakawan mengenalinya.saat itu mayat sadewa ditemukan menggeletak setelah di sobek oleh kuku lalu dilempar jauh jauh oleh werkudoro.saat itu segera sadewa disembuhkan dengan kesaktian semar.
kedatangan begawan sukmo lelono langsung disambut dengan geraman dorna.dorna meminta begawan keluar dan menunggu keputusan di alun alun hastina.sementara di dalam istana dorna meminta kepada pandawa menghabisi nyawa sang begawan.pandawa setuju….
arjuna menghadapi sang begawan.semua senjata coba digunakan.semua ajian di kerahkan.bahkan ahirnya pasopati di hantamkan.malah bebalik.ahirnya arjuna mundur dan minta kakaknya werkudoro maju.werkudoro pun sama,mengalami kesulita menghadapi begawan sukmo lelono.
ahirnya prabu kresna jelmaan sasrawindu maju.dan terjadilah adu kesaktian dengan begitu hebatnya.saat itu macan hitam jelmaan tubuh ragawi sang kresnamuncul dan menyergap prabu kresna jelmaan.dan dalam sekejab macam hitam itu bersatu dengan begawan sukmo lelono.maka terbentuklah kembali sosok kresna.dan berdiri tegak dua sosok kresna di alun alun hastinapura yang luas itu.semua tak berkedip memandang.
dua kresna beradu dan salahs atu kresna jatuh,kemudian mengeluarkan senjata cakra.senjata cakra dilemparkan tapi justru kembali ketangan kresna satunya.mengetahui kedoknya tak mungkin di samarkan lagi,kresna gadungan malih rupa jadi wujud aslinya.prabu sasra windu putra kangsa.
kresna tampak mengambil jarak agar sang prabu tidak menggunakan senjata kemlandingan putihnya.sasra windu yang merasa terancam mengeluarkan senjata andalanya.dan ketika siap mengarahkan pusakanya,hanoman sang resi mayangkara datang dan menghantamkan batu sebesar bukit ke arah sasra windu.sasra windu mati gepeng berurai menjadi darah.
oleh kresna hanoman disuruh bertapa sambil menjaga pusaka kemlandingan putih untuk diserahkan kepada anak keturunan pandawa kelak.semua tahanan dibebaskan,termasuk prabu baladewa,gatotkaca,dan juga setyaki.

RADEN BIMA/ WERKUDARA


Bima (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie

CERITA :
 Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewaruci. Ia mahir bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar), dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.
Dalam pencarian jati dirinya, Bima sering diberi tugas oleh gurunya—yang sesungguhnya dihasut oleh para Korawa untuk membunuh Bima—yang terasa mustahil untuk dikerjakan, seperti mencari kayu gung susuhing angin dan air banyu perwitasari, yang akhirnya membawa Bima bertemu dengan Dewaruci.

Istri dan keturunan

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang istri dan tiga orang anak, yaitu:
  1. Dewi Nagagini, berputra (mempunyai putra bernama) Arya Anantareja,
  2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
  3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputra Srenggini.

RADEN SRI PONCOSENO

Raden Sri Poncoseno (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Sri Poncoseno adalah tokoh pewayangan yg mungkin awam bagi kita semua.Tokoh ini hanya ada di wayang kulit Banyumas.

Sri Poncoseno
Sri Poncoseno adalah putra kelima Raden Werkudara / Bima ,dari ibu Sri Giyanti putra Resi Sri Dewa dari Pertapan Cendana Wasiat.
Raden Sri Poncoseno terlahir bukan dari perkawinan normal atau pun seperti hal'y Srenggini akan tetapi Sri Poncoseno terlahir melalui ajian / ilmu Rabi Batin.Ilmu Rabi Batin adalah ilmu dimana seseorang bila menyukai lawan jenis'y dan mereka saling mencintai mereka tidaklah harus melakukan hub badan tapi hanya melalui Mimpi saja.

Sri Poncoseno
Alkisah saat Raden Werkudara sedang berguru dgn Sri Dewa,terlibat asmara dgn Dewi Sri Giyanti putri Resi Sri Dewa akan tetapi mereka berdua saling menutupi.
Nah pada saat yg sama Raden Werkudara sedang menpelajari ilmu Bayu Langgeng dan ilmu Rabi Batin...nah saat itulah Raden Werkudara Mencoba ilmu Rabi Batin tersebut dgn Dewi Sri Giyanti.
Untuk lebih jelas'y berikut ada video wayang kulit yg menceritakan tentang Raden Sri Poncoseno oleh Ki Dalang Kukuh Bayu Aji : http://www.youtube.com/watch?v=KWZwfMSFq4c&feature=share&list=PLnx-c7FWve6mDWfvc1gR0omtBRdHWRBhw .

TUGUWASESA/ PRABU GILINGWESI


Prabu Tuguwasesa atau Gilingwesi (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Di Kerajaan Gilingwesi yang berkuasa Prabu Tuguwasesa dihadap putranya yakni Antasena, ia bermaksud menaklukkan Kerajaan Astina. Segera memerintahkan seluruh balatentaranya pergi ke Astina, setelah tiba terus melakukan penyerangan. Prabu Suyudana tidak kuat melawan musuh maka melarikan diri dengan Dewi Banowati. Demikian juga Karna dengan istrinya, Surtikanti juga ditangkap dan dipenjara di Gilingwesi.
Sementara itu Suyudana terluka di bawah pohon beringin di hutan, tiba-tiba Arjuna, Gatotkaca dan Angkawijaya datang bersama Samba dan Setyaki. Mereka memberikan pertolongan kepada Suyudana. Selanjutnya raja Astina itu bersama istrinya dibawa ke Mandura oleh Samba dan Setyaki untuk mencari tempat yang aman. Para raksasa utusan Antasena datang menyerang tetapi dapat diusir oleh Angkawijaya dan Gatotkaca.
Antasena mengetahui bahwa tentaranya terbunuh segera maju ke medan perang dan kena panah Arjuna terlempar jauh. Selanjutnya ketiga ksatria itu menuju ke Gilingwesi, disana Angkawijaya dapat memikat Antawati adik Antasena. Sedangkan Arjuna membebaskan Adipati Karna dan Dewi Surtikanti serta dapat memikat para istri raja yakni: Dewi Nawangsih, Nawang Wulan, Nawang Kencana, dan Nawang Resmi yang kemudian dibawanya ke Mandura.
Prabu Gilingwesi/ Tuguwasesa(karya Hok Gie)

Arjuna melepaskan panah pada mahkota Tuguwasesa dan berubah ujud Bima, sedangkan Anoman kembali ke Kendalisada. Demikian juga Antasena dipeluk Gatotkaca karena sebagai senopati.

RADEN ANTASENA

Corekan by Hok Gie

CERITA :
Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.
Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.
Raden Antasena (karya Hok Gie)
Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Baruna. Bima menikah dengan Urangayu dalam cerita Kali Serayu Binangun, yaitu saat Pandawa dan Kurawa berlomba untuk membuat sungai tembus ke samudera. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.
Saat Antasena masih dalam kandungan, Khayangan Suralaya diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwacinraka yang bemaksud untuk merebut dan menikahi Batari Kamaratih. Antasena yang masih dalam kandungan, dikeluarkan oleh Sang Hyang Narada, dan diajukan ke peperangan. Berkat perlindungan Sang Hyang Wenang, Antasena mampu mengalahkan Prabu Dewa Kintaka dan pasukannya.Setelah mampu mengalahkan kraman Antasena diserahkan kepada Sang Hyang Antaboga untuk dididik menjadi ksatria.
Raden Antasena (karya Hok Gie)
Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Saat itu para Pandawa sedang mempersiapkan pesta, karena Pandawa nomor tiga, Arjuna akan menikahkan salah satu putrinya Dewi Pergiwati, dengan putra mahkota Karajaan Amarta yaitu bernama Raden Pancawala, yang merupakan putra Pandawa nomor satu Yudhistira . Pernikahan antar saudara sepupu tersebut nyaris gagal karena ulah Begawan Durna yang berniat untuk menjodohkah Pergiwati dengan putra mahkota Hastina, Raden Lesmana Mandrakumara. Berkat bantuan Antasena, Pancawala berhasil melarikan Pergiwati dan terlindungi dari amukan Kurawa. Setelah kejadian tersebut Arjuna akhirnya sadar, dan meresmikan pernikahan Pancawala dengan Pergiwati.
Beberapa tahun setelah pernikahan antara Pancawala dengan Pergiwati, Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati yang juga putri Arjuna.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.
Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata

Raden Antasena (karya Hok Gie)
Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.
Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.

RADEN GATHOTKACA

Corekan by Hok Gie

CERITA :
Raden Gatotkaca adalah putera Raden Wrekudara yang kedua. Ibunya seorang putri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgandani. Waktu dilahirkan Gatotkaca berupa raksasa, karena sangat saktinya tidak ada senjata yang dapat memotong tali pusatnya. Kemudian tali pusat itu dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca, dan menambah lagi kesaktiannya.
Raden Gathotkaca ( karya Hok Gie)

Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian; karena. itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang di awan dan duduk di atas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang di awan bagai kilat dan liar bagai halilintar. Kesaktiannya dalam perang, dapat mencabut leher. musuhnya dengan digunakan pada saat yang penting. Gatotkaca diangkat jadi raja di Pringgadani dan ia disebut kesatria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan. Dalam perang Baratayudha Gatotkaca tewas oleh senjata Kunta yang ditujukan kepada Gatotkaca. Ketika Gatotkaca bersembunyi dalam awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan mengenai kereta kendaraan Karna hingga hancur lebur. Gatotkaca beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Arjuna.

Dalam riwayat, Gatotkaca mati masih sangat muda, hingga sangat disesali oleh sekalian keluarganya.
Menurut kata dalang waktu Raden Gatotkaca akan mengawan, diucapkan seperti berikut :
Tersebutlah, pakaian Raden Gatotkaca yang juga disebut kesatria di Pringgadani: Berjamang mas bersinar-sinar tiga susun, bersunting mas berbentuk bunga kenanga dikarangkan berupa surengpati. (Surengpati berarti berani pada ajalnya. Sunting serupa ini juga dipakai untuk seorang murid waktu menerima ilmu dari gurunya bagi ilmu kematian, untuk lambang bah.wa orang yang menerima ilmu itu takkan takut pada kematiannya). Bergelung (sanggul) bentuk supit urang tersangga oleh praba, berkancing sanggul mas tua bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir, berpontoh nagaraja, bergelang kana (gelang empat segi). Berkain (kampuh) sutera jingga, dibatik dengan lukisan seisi hutan, berikat-pinggang cindai hijau, becelana cindai biru, berkeroncong suasa bentuk nagaraja, uncal diberi emas anting.
Raden Gathotkaca (karya hok Gie)

Diceritakan, Raden Gatotkaca waktu akan berjalan ia berterumpah Padakacarma, yang membuatnya dapat terbang tanpa sayap. Bersongkok Basunanda, walaupun pada waktu panas terik takkan kena panas, bila hujan tak kena air hujan. Diceritakan Raden Gatotkaca menyingsingkan kain bertaliwanda, ialah kain itu dibelitkan pada badan bagian belakang Raden Gatotkaca segera menepuk bahu dan menolakkan kakinya kebumi, terasa bumi itu mengeram di bawah kakinya. Mengawanlah ia keangkasa.
Wayang itu diujudkan sebagai terbang, ialah dijalan kain, dari kanan ke kiri, dibagian kelir atas beberapa kali lalu dicacakkan, ibarat berhenti di atas awan, dan dalang bercerita pula, Tersebutlah Raden Gatotkaca telah mengawan, setiba di angkasa terasa sebagai menginjak daratan, menyelam di awan biru, mengisah awan di hadapannya dan tertutuplah oleh awan di belakangnya, samar samar tertampak ia di pandangan orang. Sinar pakaian Gatotkaca yang kena sinar matahari sebagai kilat memburunya. Maka berhentilah kesatria Pringgadani di awan melintang, menghadap pada awan yang lain dengan melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah hening pemandangan Gatotkaca, turunlah ia dari angkasa menuju ke bumi,
Adipati Karna waktu perang Baratayudha berperang tanding melawan Gatotkaca. Karna melepaskan senjata kunta Wijayadanu, kenalah Gatotkaca dengan senjata itu pada pusatnya. Setelah Gatotkaca kena panah itu jatuhlah Gatotkaca dari angkasa,, menjatuhi kereta kendaraan Karna, hingga hancur lebur kereta itu.
Tersebut dalam cerita, Raden Gatotkaca seorang kesatria yang tak pernah bersolek, hanya berpakaian bersahaja, jauh dari pada wanita. Tetapi setelah Gatotkaca melihat puteri Raden Arjuna, Dewi Pregiwa, waktu diiring oleh Raden Angkawijaya, Raden Gatotkaca jatuh hati lantaran melihat puteri itu berhias serba bersahaja. Berubah tingkah Raden. Gatotkaca ini diketahui oleh ibunya (Dewi Arimbi) dengan sukacita dan menuruti segala permintaan Raden Gatotkaca. Kemudian puteri ini diperisteri Raden Gatotkaca.

BENTUK WAYANG

Raden Gathotkaca & Raden Antareja (karya Hok Gie)
Gatotkaca bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan beryanggut. Berjamang tiga susun, bersunting waderan, sanggul kadal-menek, bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.
Gatotkaca berwanda 1 Guntur, 2 Kilat 3 Tatit. 4 Tatit sepuh, 5 Mega dan 6 Mendung.

RADEN SRENGGINI


Raden Srenggini 1 (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap
Raden Srenggini 2 (karya Hok Gie)
CERITA :
Srenggini adalah anak keempat raden Werkudara dgn ibu Rekatawati
yg berwujud Kepiting putri dari Dewa Rekatatama.

Pada suatu waktu ketika Raden Bratasena berpisah dengan Dewi Urang Ayu, ibu Antasena,
Raden Werkudara mengeluarkan Kama/mani yang ia kibaskan ke pasir dipinggir pantai.

Dan ketika itu Dewi Rekatawati mencari makan …
tanpa disengaja meminum kama Bratasena yang jatuh
karena tidak bisa bersenggama dengan Dewi Urang Ayu.
Raden Srenggini 3 (karya Hok Gie)


Kelak kejadian ini akan melahirkan 2 ksatria yang tangguh …
yaitu Raden Antasena dan Raden Srenggini.
Raden Antasena Putra raden Bratasena (Bima) dengan dewi Urang Ayu
Sedangkan Raden Srenggini anak Bratasena Dengan Dewi Rekatawati.

Antasena berjalan tidak seperti layaknya manusia lain,
dia berjalan dengan tangan selalu di belakang tubuh.

Hal ini karena tangan Antasena sangat berat …
karena di tangannnya bersemayam ari-ari dan air ketubannya …
(kadang papat kalima pancer)
Karena itu pula dalam versi Banyumas Antasena kalau berperang …
tidak pernah menyentuh musuhnya, tetapi hanya menggerakkan tangannya saja.
Raden Srenggini 4 (karya Hok Gie)

dan musuhnya bergerak mengikuti gerakan tangan Antasena …
(kaprabawan/ Di sengat setrum).
Selain itu Antasena mempunyai upas (racun) yang namanya upas Anta.

Raden Srenggini 5 (karya hok Gie)
Sedangkan Srenggini berjalan miring layaknya Kepiting
(Wayang Srenggini mirip Antasena wajahnya tetapi tidak bergelung winangkara …
dan mempunyai Capit di kepalanya).
Dia memiliki kekuatan yang namanya aji Totoksewu.