Tampilkan postingan dengan label gathotkaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gathotkaca. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

WAYANG KULIT AVATARA

WAYANG KULIT AVATARA

Wayang Kulit Avatara adalah Wayang kulit yang berbentuk/ menceritakan Penjelmaan Dewa Wisnu. 
Dalam kepercayaan Agama Hindu ada 10 Avatara/ Penjelmaan Dewa Wisnu.
Untuk kesempatan ini saya mendapat amanat dari Bapak Budi Santosa - Jember - Jawa Timur untuk mewujudkan beberapa Avatara Dewa Wisnu dalam bentuk Wayang Kulit Purwa Semi Kreasi.
Ide Beliau ini awalnya membuat saya ragu/ galau gundah gulana karena jelas kalau sudah jadi akan menimbulkan pro dan kontra apalagi yang tidak tahu cerita tentang apa itu Avatara.
Tapi setelah mendapat wejangan dan pencerahan dari beliau akhirnya saya memantapkan diri untuk membuat Wayang Avatara ini.


1. KURMA AVATARA

 
KURMA AVATARA by Hok Gie

Dalam agama hindu, Kurma adalah Awatara kedua dewa Wisnu yg berwujud Kura kura raksasa. Awatara ini muncul pada saat masa Satyayuga. Menurut kitab Adiparwa, kura kura tersebut bernama Akupa.
Menurut berbagai kitab Oyrana, Wisnu mengambil wujud seekor kura kura dan mengapung dilautan susu(Kserasagara atau Kserarmawa). Didasar laut tersebut konon terdapat harta karun dan tirta Amerta yg dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para dewa dan Asura berlomba lomba mendapatkannya.


Utk mengaduk lautan tersebut mereka membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Mandara digunakan utk mengaduknya. Para dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan Naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Kurma menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Dewa Endra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat keatas. Setelah sekian lama tirta Amerta berhasil didapat dan dewa Wisnu mengambil alih.
Kurma jg nama dari seorang resi, putra Gretsamada.
#kurmaawatara
#idebybudisantosa
#createdbyhokgie
#hokgiewayangkulit
#savewayangkulitindonesia




2. WARAHA AVATARA


WARAHA AVATARA by Hok Gie

 Waraha adalah Awatara ketiga dari dewa Wisnu yang berwujud babi hutan. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga(zaman kebenaran). Kisah mengenai Waraha Awatara selengkapnya terdapat didalam kitab Warahapurana dan Purana-purana lainnya.

Menurut mitologi Hindu, pada zaman Satyayuga ada seorang raksasa bernama Hiranyaksa, adik raksasa Hiranyakasipu. Keduanya merupakan kaum Detya(raksasa). Hiranyaksa hendak menenggelamkan pertiwi/planet Bumi kedalam "lautan kosmik" suatu tempat diantah berantah diruang angkasa.
Melihat dunia akan mengalami kiamat, Wisnu menjelma menjadi babi hutan yg memiliki dua taring panjang mencuat dgn tujuan menopang bumi yg dijatuhkan oleh Hiranyaksa. Usaha penyelamatan yg dilakukan Waraha tidak berlangsung lancar karena dihadang oleh Hiranyaksa. Maka terjadilah pertempuran sengit antara raksasa Hiranyaksa dgn dewa Wisnu. konon pertarungan ini terjadi ribuantahun yang lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya Dewa Wisnu yang menang.
Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat bumi yg bulat seperti bola dengan dua taringnya yg panjang mencuat, dari lautan kosmik dan meletakkan bumi pd orbitnya. Setelah itu dewa Wisnu menikahi Dewi Pertiwi dalam wujud Awatara tersebut.
#warahaawatara
#idebybudisantosa
#createdbyhokgie
#hokgiewayangkulit
#savewayangkulitindonesia




Senin, 09 Mei 2016

PRABU SUMILIH/ GATHOTKACA RATU

Prabu Sumilih/ Gathotkaca Ratu (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie
Revisi ; Suluh


CERITA :
Raden Hanantareja yang dalam pedalangan cukup dipanggil Anantareja, mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar (patih njaba) negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit.

Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau juga disebut jangkarbumi. Bersamaan dengan lahirnya Antareja, raja negara jangkarbumi Prabu Nagabaginda menyerang kagyangan Suralaya. Ia meminta Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya, namun raja Tribuwana tidak berkenan, namun para dewa tak mampu melawan kesaktian prabu nagabaginda. Akhirnya Batara Antaboga yang ditunjuk supaya mmusnahkan Prabu nagabaginda tadi, Antareja yang masih bayi akhirnya dibawa kakeknya menuju ke medan tempur dan dipertemukan dengan raja Jangkarbumi. Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga menjadi kebal senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan bertambah dewasa. Akhirnya Prabu nagabaginda dapat dibinasakan oleh Antareja, negara Jangkarbumi lalu diserahkan kepada putra Bima tersebut. Prabu Nagabaginda yang tewas itu kemudian menjilma ke tubuh Antareja.
 Peristiwa ini mengilhami Antareja ketika membantu adiknya. Arya Gatutkaca yang menuntut janji raja Tribuwana. Ketika Gatutkaca dapat menumpas raja Gilingwesi Prabu Pracona dan patih Kala Sekipu, Sanghyang Guru menjanjikan akan mengangkat Gatutkaca menjadi raja di kahyangan. Karena ditunggu-tunggu Hyang Guru tidak segera memenuhi janjinya, Gatutkaca menagih janji dibantu saudaranya, Antareja.
Saat itu Antareja menjadi raja Puserbawana bergelar Prabu Nagabaginda. Ia menyerang Suralaya sehingga Sanghyang Guru memanggil Gatutkaca. Sebelum berhadapan dengan Gatutkaca, Prabu nagabaginda melarikan diri sehingga Gatutkaca kemudian diangkat menjadi raja di Suralaya bergelar Prabu Sumilih. Prabu Nagabaginda yang lari dari kahyangan, kemudian menyerang negara Astina. Kurawa kalang kabut sehingga meminta bantuan kepada Pandawa. Karena Pandawa dan Sri Kresna juga tidak mampu membendung pasukan perang Puserbuwana, Sri Kresna dan Arya Bima meminta bantuan kepada Prabu Sumilih. Akhirnya Prabu Sumilih dan Prabu Nagabaginda berperang, keduanya kembali seperti sediakala menjadi Arya Gatutkaca dan Raden Antareja.
Antareja mempunyai kesaktian racun/bisa pada air liurnya yang dapat membinasakan lawan dalam waktu sekejap. Kulitnya yang bersisik Napakawaca mampu menahan serangan senjata tajam. Ia juga mempunyai cincin sakti Mustikabumi pemberian dari ibunya untuk tanda bukti bahwa Antareja adalah putra Dewi Nagagini. Didalam lakon Subadra Larung, cincin itu diperlihatkan kepada Arya Werkudara ayahnya, sehingga bima mengakui putranya. Kala itu Antareja terkejut melihat perahu mayat wanita yang tiada lain adalah Wara Subadra istri Janaka. Dengan cincin Mustikabumi, Antareja dapat menghidupkan kembali Subadra yang sudah meninggal karena dibunuh oleh Burisrawa secara tidak sengaja.
 Akhirnya, Gatutkaca yang mendapat tugas untuk mengawasi jenazah Wara Subadra menjadi curiga dan menuduh Antareja yang membunuh bibinya itu. Keduanya lalu berperang, namun segera dicegah oleh Sri Kresna dan diberi nasehat bahwa keduanya masih saudara. Wara Subadra sendiri mengaku bahwa yang membunuh dirinya itu satriya Madyapura Raden Burisrawa, putra Prabu Salya raja Mandaraka. Dalam kisah Kresna Gugah, Sri Kresnah merubah dirinya menjadi kumbang putih dan meninggalkan jasmaninya dalam bentuk raksasa yang sedang tidur. Roh Sri Kresna berupa kumbah putih itu menyelidiki kitab Jitabsara yang ditulis oleh Batara Panyarikan. Kitab Jitabsara mengisahkan Bharatayudha lengkap senopati Kurawa berpasangan dengan senopati Pandawa. Ketika Prabu Baladewa ditulis memihak Kurawa dan berhadapan dengan Antareja, Sri Kresna tidak sampai hati, maka ia menumpahkan tinta hitam tepat mengenai tulisan yang menerangkan pasangan Baladewa melawan Antareja. Sehingga keduanya gagal dipertemukan dalam Bharatayudha.
Akhirnya riwayat Antareja dikisahkan dalam lakon Tawur atau pengorbanan keluarga demi mencapai kejayaan perang. Kurawa tidak rela mengorbankan salah satu keluarganya, melainkan membunuh Ijrada, tarka dan Sarka, sedangkan Antareja dan Wisenggani rela mengorbankan diri untuk tumbal kemenangan pandawa. Antareja rela mati dengan menjiliat telapak kakinya sendiri dengan anugerah menempati sorgaloka tingkat sembilan (swarga tunda sanga) milik Sri Kresna.
 Antareja Lahir
Di negara Saptapratala, Hyang Anantaboga, resi Abiyasa, para Pandawa, berkumpul untuk menunggu Dewi Nagagini yang akan melahirkan putera, berkatalah resi Abiyasa,”Hyang Anantaboga perkenankanlah nagagini saya bawa ke negara Amarta, jika bayi telah lahir, akan saya serahkan kembali .” Hyang Anantaboga menyetujuinya, dan berangkatlah Resi Abiyasa dengan Dewi Nagagini beserta pada Pandawa kembali ke Amarta. Sesampainya di Amarta telah hadir pula Hyang Kanekaputra dan para bidadari, berkatalah Hyang Narada,”gara-gara telah terjadi , tak lain dan tak bukan, titahku resi Abiyasa akan menurunkan ke-alusan-nya Gandamana, lagipula aku datang di Amarta atas nama Hyang guru, untuk menyaksikan kelahiran bayi Nagagini”. Tak lama setelah Hyang Narada bersabda, lahirlah bayi dari kandungan Dewi Nagagini.
Resi Abiyasa diberitahu oleh Hyang Kanekaputra, bahwa Hyang Guru berkenan memberi nama kepada si bayi: Senaputra, Antarja, lagipula diberi wahyu kesaktian racun hru pada gigi taringnya si bayi. Untuk mendapatkan kelemasan ototototnya, diseyogyakan si bayi diadu perang, dikemudian hari bayi akan menjadi jagonya para dewa. Setelah Hyang Narada selesai bersabda, kembalilah ke Suralaya diiring pada bidadari . Negara Amarta pada waktu yang bersamaan , dikepung oleh musuh, raja dari Paranggumiwang, bernama Prabu Salksadewa, datang akan menuntut balas dendam kematian ayahnya prabu Kaskaya, yang dibunuh oleh prabu Pandudewanata, ayah dari Prabu Yudistira dari negara Wanamarta.
 Berkatalah Hyang Anantaboga,”Biarlah si Antarja menghadapi musuh dari Paranggumiwang, Werkudara bimbinglah puteramu ke medan laga”. Prabu Saksadewa mati oleh Anantareja, prajurit Paranggumiwang, patih Kalasudarga, emban Saksadewi tak dapat pula menandingi AntarEja, mati kesemuanya oleh putera Raden Arya Werkudara.
Seluruh istana bersuka cita merayakan kemenangan, Hyang Ananboga membawa cucunya Raden Anatareja kembali ke Saptapratala.
Antareja Takon Bapa
Di kerajaan Astina Prabu Nagabagendo, Begawan Durna menghadap Prabu Duryudana, oleh Begawan Durna dikatakan bahwa anak muridnya yang bernama Nagabagendo bersedia menjadi duta untuk membinasakan Pandawa. Setelah semua mufakat, berangkatlah Begawan Durna diiringi Prabu Nagabagendo menuju negeri Amarta, namun diperjalanan bertemu dengan R. Sentyaki dan R. Udawa kesatria dari Dwarawati.
 Setelah mengetahui bahwa Prabu Nagabagendo akan menjadi perusuh dan membahayakan keluarga Pandawa, kedua satria tersebut lalu berperang dengan Prabu Nagabagendo dam kedua satria digertak Prabu Nagabagendo, R. Udawa jatuh dilapangan negeri Amarta dan R. Sentyaki jatuh di negeri Amarta. Begitu R. Sentyaki mendapat dirinya berada di negeri Amarta, segera melaporkan akan mara bahaya yang akan menimpa pihak Pandawa, belum selesai melaporkan kejadian yang dialami pihak Pandawa, datang Prabu Nagabagendo untuk merebut kekuasaan Amarta, maka terjadilah peperangan dan pihak Pandawa tak ada yang dapat mengalahkan kesaktian Prabu Nagabagendo.
Akhirnya berdasarkan saran Prabu Kresna, bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Nagabagendo adalah kesatria yang berkulit sisik seperti ular, maka R. Angkawijaya ditugaskan untuk mencari satria yang dimaksud. Sementara itu di sumur Jalatunda, R. Pudak Kencana menghadap kakeknya, Sang Hyang Hanantaboga untuk diberitahu siapa sebenarnya ayahnya dan dimana berada.
Oleh Sang Hyang Hanantaboga diberitahu bahwa ayahndanya ada di negeri Amarta bersemayam di Kasatrian Jodipati. Dengan diiringi kakeknya, R. Pudak Kencana pergi menuju kasatrian Jodipati dan di tengah jalan bertemulah ia dengan R. Angkawijaya yang sedang mencari jago untuk melawan Prabu Nagabagendo. Sesampainya di negeri Amarta, R. Pudak Kencana bertemu dengan R. Werkudara, namun R. Werkudara akan mengakui sebagai anaknya bila mampu membinasakan Prabu Nagabagendo. Akhirnya R. Pudak Kencana berperang melawan Prabu Nagabagendo dan binasa, oleh kakeknya R. Pudak Kencana dapat dihidupkan kembali dengan air kehidupan yang disebut Tirta Kamandanu serta R. Pudak Kencana diberi kesaktian Ajian Upas Onto.
 Dengan kesaktian Upas Onto, R. Pudak Kencana dapat membinasakan Prabu Nagabagendo dan bala tentara Kurawa dapat dikalahkan oleh Pandawa beserta putra-putranya.
Dengan kematian Prabu Nagabagendo negeri Amarta menjadi aman, tentram dan damai serta R.Pudak Kencana menjadi bagian keluarga besar Pandawa dan beralih nama R.Antareja.
xxxx
Antareja (versi wikipedia)
Antareja adalah anak dari Werkodara atau Bima dari istri keduanya Nagagini seorang putri Dewa Antaboga. Dikisahkan dia adalah seorang satria yang tangguh, sakti mandraguna. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu, bernama: Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu. Sejak kecil Anatareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar bumi).
Ia memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.
Anantareja memiliki sifat dan perwatakan : jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuda atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayudha.






RADEN BIMA/ WERKUDARA


Bima (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie

CERITA :
 Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewaruci. Ia mahir bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar), dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.
Dalam pencarian jati dirinya, Bima sering diberi tugas oleh gurunya—yang sesungguhnya dihasut oleh para Korawa untuk membunuh Bima—yang terasa mustahil untuk dikerjakan, seperti mencari kayu gung susuhing angin dan air banyu perwitasari, yang akhirnya membawa Bima bertemu dengan Dewaruci.

Istri dan keturunan

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang istri dan tiga orang anak, yaitu:
  1. Dewi Nagagini, berputra (mempunyai putra bernama) Arya Anantareja,
  2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
  3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputra Srenggini.

RADEN SRI PONCOSENO

Raden Sri Poncoseno (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Sri Poncoseno adalah tokoh pewayangan yg mungkin awam bagi kita semua.Tokoh ini hanya ada di wayang kulit Banyumas.

Sri Poncoseno
Sri Poncoseno adalah putra kelima Raden Werkudara / Bima ,dari ibu Sri Giyanti putra Resi Sri Dewa dari Pertapan Cendana Wasiat.
Raden Sri Poncoseno terlahir bukan dari perkawinan normal atau pun seperti hal'y Srenggini akan tetapi Sri Poncoseno terlahir melalui ajian / ilmu Rabi Batin.Ilmu Rabi Batin adalah ilmu dimana seseorang bila menyukai lawan jenis'y dan mereka saling mencintai mereka tidaklah harus melakukan hub badan tapi hanya melalui Mimpi saja.

Sri Poncoseno
Alkisah saat Raden Werkudara sedang berguru dgn Sri Dewa,terlibat asmara dgn Dewi Sri Giyanti putri Resi Sri Dewa akan tetapi mereka berdua saling menutupi.
Nah pada saat yg sama Raden Werkudara sedang menpelajari ilmu Bayu Langgeng dan ilmu Rabi Batin...nah saat itulah Raden Werkudara Mencoba ilmu Rabi Batin tersebut dgn Dewi Sri Giyanti.
Untuk lebih jelas'y berikut ada video wayang kulit yg menceritakan tentang Raden Sri Poncoseno oleh Ki Dalang Kukuh Bayu Aji : http://www.youtube.com/watch?v=KWZwfMSFq4c&feature=share&list=PLnx-c7FWve6mDWfvc1gR0omtBRdHWRBhw .

TUGUWASESA/ PRABU GILINGWESI


Prabu Tuguwasesa atau Gilingwesi (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Di Kerajaan Gilingwesi yang berkuasa Prabu Tuguwasesa dihadap putranya yakni Antasena, ia bermaksud menaklukkan Kerajaan Astina. Segera memerintahkan seluruh balatentaranya pergi ke Astina, setelah tiba terus melakukan penyerangan. Prabu Suyudana tidak kuat melawan musuh maka melarikan diri dengan Dewi Banowati. Demikian juga Karna dengan istrinya, Surtikanti juga ditangkap dan dipenjara di Gilingwesi.
Sementara itu Suyudana terluka di bawah pohon beringin di hutan, tiba-tiba Arjuna, Gatotkaca dan Angkawijaya datang bersama Samba dan Setyaki. Mereka memberikan pertolongan kepada Suyudana. Selanjutnya raja Astina itu bersama istrinya dibawa ke Mandura oleh Samba dan Setyaki untuk mencari tempat yang aman. Para raksasa utusan Antasena datang menyerang tetapi dapat diusir oleh Angkawijaya dan Gatotkaca.
Antasena mengetahui bahwa tentaranya terbunuh segera maju ke medan perang dan kena panah Arjuna terlempar jauh. Selanjutnya ketiga ksatria itu menuju ke Gilingwesi, disana Angkawijaya dapat memikat Antawati adik Antasena. Sedangkan Arjuna membebaskan Adipati Karna dan Dewi Surtikanti serta dapat memikat para istri raja yakni: Dewi Nawangsih, Nawang Wulan, Nawang Kencana, dan Nawang Resmi yang kemudian dibawanya ke Mandura.
Prabu Gilingwesi/ Tuguwasesa(karya Hok Gie)

Arjuna melepaskan panah pada mahkota Tuguwasesa dan berubah ujud Bima, sedangkan Anoman kembali ke Kendalisada. Demikian juga Antasena dipeluk Gatotkaca karena sebagai senopati.

RADEN ANTASENA

Corekan by Hok Gie

CERITA :
Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.
Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.
Raden Antasena (karya Hok Gie)
Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Baruna. Bima menikah dengan Urangayu dalam cerita Kali Serayu Binangun, yaitu saat Pandawa dan Kurawa berlomba untuk membuat sungai tembus ke samudera. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.
Saat Antasena masih dalam kandungan, Khayangan Suralaya diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwacinraka yang bemaksud untuk merebut dan menikahi Batari Kamaratih. Antasena yang masih dalam kandungan, dikeluarkan oleh Sang Hyang Narada, dan diajukan ke peperangan. Berkat perlindungan Sang Hyang Wenang, Antasena mampu mengalahkan Prabu Dewa Kintaka dan pasukannya.Setelah mampu mengalahkan kraman Antasena diserahkan kepada Sang Hyang Antaboga untuk dididik menjadi ksatria.
Raden Antasena (karya Hok Gie)
Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Saat itu para Pandawa sedang mempersiapkan pesta, karena Pandawa nomor tiga, Arjuna akan menikahkan salah satu putrinya Dewi Pergiwati, dengan putra mahkota Karajaan Amarta yaitu bernama Raden Pancawala, yang merupakan putra Pandawa nomor satu Yudhistira . Pernikahan antar saudara sepupu tersebut nyaris gagal karena ulah Begawan Durna yang berniat untuk menjodohkah Pergiwati dengan putra mahkota Hastina, Raden Lesmana Mandrakumara. Berkat bantuan Antasena, Pancawala berhasil melarikan Pergiwati dan terlindungi dari amukan Kurawa. Setelah kejadian tersebut Arjuna akhirnya sadar, dan meresmikan pernikahan Pancawala dengan Pergiwati.
Beberapa tahun setelah pernikahan antara Pancawala dengan Pergiwati, Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati yang juga putri Arjuna.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.
Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata

Raden Antasena (karya Hok Gie)
Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.
Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.

RADEN GATHOTKACA

Corekan by Hok Gie

CERITA :
Raden Gatotkaca adalah putera Raden Wrekudara yang kedua. Ibunya seorang putri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgandani. Waktu dilahirkan Gatotkaca berupa raksasa, karena sangat saktinya tidak ada senjata yang dapat memotong tali pusatnya. Kemudian tali pusat itu dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca, dan menambah lagi kesaktiannya.
Raden Gathotkaca ( karya Hok Gie)

Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian; karena. itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang di awan dan duduk di atas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang di awan bagai kilat dan liar bagai halilintar. Kesaktiannya dalam perang, dapat mencabut leher. musuhnya dengan digunakan pada saat yang penting. Gatotkaca diangkat jadi raja di Pringgadani dan ia disebut kesatria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan. Dalam perang Baratayudha Gatotkaca tewas oleh senjata Kunta yang ditujukan kepada Gatotkaca. Ketika Gatotkaca bersembunyi dalam awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan mengenai kereta kendaraan Karna hingga hancur lebur. Gatotkaca beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Arjuna.

Dalam riwayat, Gatotkaca mati masih sangat muda, hingga sangat disesali oleh sekalian keluarganya.
Menurut kata dalang waktu Raden Gatotkaca akan mengawan, diucapkan seperti berikut :
Tersebutlah, pakaian Raden Gatotkaca yang juga disebut kesatria di Pringgadani: Berjamang mas bersinar-sinar tiga susun, bersunting mas berbentuk bunga kenanga dikarangkan berupa surengpati. (Surengpati berarti berani pada ajalnya. Sunting serupa ini juga dipakai untuk seorang murid waktu menerima ilmu dari gurunya bagi ilmu kematian, untuk lambang bah.wa orang yang menerima ilmu itu takkan takut pada kematiannya). Bergelung (sanggul) bentuk supit urang tersangga oleh praba, berkancing sanggul mas tua bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir, berpontoh nagaraja, bergelang kana (gelang empat segi). Berkain (kampuh) sutera jingga, dibatik dengan lukisan seisi hutan, berikat-pinggang cindai hijau, becelana cindai biru, berkeroncong suasa bentuk nagaraja, uncal diberi emas anting.
Raden Gathotkaca (karya hok Gie)

Diceritakan, Raden Gatotkaca waktu akan berjalan ia berterumpah Padakacarma, yang membuatnya dapat terbang tanpa sayap. Bersongkok Basunanda, walaupun pada waktu panas terik takkan kena panas, bila hujan tak kena air hujan. Diceritakan Raden Gatotkaca menyingsingkan kain bertaliwanda, ialah kain itu dibelitkan pada badan bagian belakang Raden Gatotkaca segera menepuk bahu dan menolakkan kakinya kebumi, terasa bumi itu mengeram di bawah kakinya. Mengawanlah ia keangkasa.
Wayang itu diujudkan sebagai terbang, ialah dijalan kain, dari kanan ke kiri, dibagian kelir atas beberapa kali lalu dicacakkan, ibarat berhenti di atas awan, dan dalang bercerita pula, Tersebutlah Raden Gatotkaca telah mengawan, setiba di angkasa terasa sebagai menginjak daratan, menyelam di awan biru, mengisah awan di hadapannya dan tertutuplah oleh awan di belakangnya, samar samar tertampak ia di pandangan orang. Sinar pakaian Gatotkaca yang kena sinar matahari sebagai kilat memburunya. Maka berhentilah kesatria Pringgadani di awan melintang, menghadap pada awan yang lain dengan melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah hening pemandangan Gatotkaca, turunlah ia dari angkasa menuju ke bumi,
Adipati Karna waktu perang Baratayudha berperang tanding melawan Gatotkaca. Karna melepaskan senjata kunta Wijayadanu, kenalah Gatotkaca dengan senjata itu pada pusatnya. Setelah Gatotkaca kena panah itu jatuhlah Gatotkaca dari angkasa,, menjatuhi kereta kendaraan Karna, hingga hancur lebur kereta itu.
Tersebut dalam cerita, Raden Gatotkaca seorang kesatria yang tak pernah bersolek, hanya berpakaian bersahaja, jauh dari pada wanita. Tetapi setelah Gatotkaca melihat puteri Raden Arjuna, Dewi Pregiwa, waktu diiring oleh Raden Angkawijaya, Raden Gatotkaca jatuh hati lantaran melihat puteri itu berhias serba bersahaja. Berubah tingkah Raden. Gatotkaca ini diketahui oleh ibunya (Dewi Arimbi) dengan sukacita dan menuruti segala permintaan Raden Gatotkaca. Kemudian puteri ini diperisteri Raden Gatotkaca.

BENTUK WAYANG

Raden Gathotkaca & Raden Antareja (karya Hok Gie)
Gatotkaca bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan beryanggut. Berjamang tiga susun, bersunting waderan, sanggul kadal-menek, bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.
Gatotkaca berwanda 1 Guntur, 2 Kilat 3 Tatit. 4 Tatit sepuh, 5 Mega dan 6 Mendung.

RADEN ANTAREJA

Raden Antareja 1 (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :

Antareja (Anantareja) yang dalam pedalangan cukup dipanggil Anantareja, mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara dengan Dewi Nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari pernikahan ini lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar atau patih njaba negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit.
Raden Antareja 2 (karya Hok Gie)


Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau juga disebut jangkarbumi. Bersamaan dengan lahirnya Antareja, raja negara jangkarbumi Prabu Nagabaginda menyerang kahyangan Suralaya. Ia meminta Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya, namun raja Tribuwana tidak berkenan, namun para dewa tak mampu melawan kesaktian prabu nagabaginda. Akhirnya Batara Antaboga yang ditunjuk supaya memusnahkan Prabu nagabaginda tadi, Antareja yang masih bayi akhirnya dibawa kakeknya menuju ke medan tempur dan dipertemukan dengan raja Jangkarbumi.

Raden Antareja 3 (karya Hok Gie)
Raden Antareja Wanda Naga - Hok Gie Collection 2019
Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga menjadi kebal senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan bertambah dewasa. Akhirnya Prabu nagabaginda dapat dibinasakan oleh Antareja, negara Jangkarbumi lalu diserahkan kepada putra Bima tersebut. Prabu Nagabaginda yang tewas itu kemudian menjilma ke tubuh Antareja. Peristiwa ini mengilhami Antareja ketika membantu adiknya. Arya Gatutkaca yang menuntut janji raja Tribuwana. Ketika Raden Gathotkaca dapat menumpas raja Gilingwesi Prabu Pracona

RADEN SRENGGINI


Raden Srenggini 1 (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap
Raden Srenggini 2 (karya Hok Gie)
CERITA :
Srenggini adalah anak keempat raden Werkudara dgn ibu Rekatawati
yg berwujud Kepiting putri dari Dewa Rekatatama.

Pada suatu waktu ketika Raden Bratasena berpisah dengan Dewi Urang Ayu, ibu Antasena,
Raden Werkudara mengeluarkan Kama/mani yang ia kibaskan ke pasir dipinggir pantai.

Dan ketika itu Dewi Rekatawati mencari makan …
tanpa disengaja meminum kama Bratasena yang jatuh
karena tidak bisa bersenggama dengan Dewi Urang Ayu.
Raden Srenggini 3 (karya Hok Gie)


Kelak kejadian ini akan melahirkan 2 ksatria yang tangguh …
yaitu Raden Antasena dan Raden Srenggini.
Raden Antasena Putra raden Bratasena (Bima) dengan dewi Urang Ayu
Sedangkan Raden Srenggini anak Bratasena Dengan Dewi Rekatawati.

Antasena berjalan tidak seperti layaknya manusia lain,
dia berjalan dengan tangan selalu di belakang tubuh.

Hal ini karena tangan Antasena sangat berat …
karena di tangannnya bersemayam ari-ari dan air ketubannya …
(kadang papat kalima pancer)
Karena itu pula dalam versi Banyumas Antasena kalau berperang …
tidak pernah menyentuh musuhnya, tetapi hanya menggerakkan tangannya saja.
Raden Srenggini 4 (karya Hok Gie)

dan musuhnya bergerak mengikuti gerakan tangan Antasena …
(kaprabawan/ Di sengat setrum).
Selain itu Antasena mempunyai upas (racun) yang namanya upas Anta.

Raden Srenggini 5 (karya hok Gie)
Sedangkan Srenggini berjalan miring layaknya Kepiting
(Wayang Srenggini mirip Antasena wajahnya tetapi tidak bergelung winangkara …
dan mempunyai Capit di kepalanya).
Dia memiliki kekuatan yang namanya aji Totoksewu.

SANG HYANG MANIKMAYA/ BETHARA GURU

Bethara Guru 1 ( Karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Batara Guru (juga disebut Bathara Guru dan Debata Batara Guru) adalah nama sesosok mahadewa dalam beberapa mitologi Indonesia. Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan terhormat" dan Guru, epitet dari Bá¹›haspati, seorang Dewa Hindu yang tinggal dan diidentifikasikan dengan planet Jupiter

Bethara Guru 2 (Karya Hok Gie)

Menurut mitologi Jawa, Batara Guru merupakan Dewa serta pewayangan yang merajai kahyangan, wilayah para dewa. Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan mempunyai beberapa anak. Betara Guru merupakan satu-satunya wayang kulit yang digambarkan dalam posisi menghadap ke depan, ke arah manusia. Hal ini dapat dilihat dari posisi kakinya. Hanya saja karena berbentuk wayang, maka ia menghadap ke samping. Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.
Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.

Bethara Guru 3 (Karya Hok Gie)
Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya.[2][3][4] Orang tua mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya. Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.

Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul terjadi.

Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air tersebut beracun—lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya. Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya. Hal ini adalah salah satu upaya de-Hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan Walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa. Contoh lain adalah penyebutan Drona menjadi Durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga, dan lain-lain.
Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

Batara Sambu
Batara Brahma
Batara Indra
Batara Bayu
Batara Wisnu
Batara Ganesha
Batara Kala
Hanoman

Minggu, 08 Mei 2016

RADEN BRATASENA

Raden Bratasena (Karya hok Gie)
Ide Kreasi by Hok Gie- Cilacap
Corekan by Sanggar Wayang Gogon - Solo

CERITA :
Raden Bratasena adalah anggota Pandawa yang kedua, putra Prabu Pandu. Bratasena bernama juga Bima dan Bayusuta atau putra angkat Betara Bayu. Setelah dewasa ia bernama Wrekudara, bertahta di Jodipati, sebagai sebagai raja.
Bratasena tidak pernah memakai bahasa halus pada siapa pun juga, bahkan terhadap Dewa, dia juga menggunakan bahasa, kasar. Selama hidupnya hanya sekali, ia berbahasa halus (atau krama) yaitu ketika ia bertemu dengan Dewa Ruci. Seorang dewa yang berukuran kerdil, yang dianggapnya sebagai yang dewa sejati. Tetapi walaupun kasar, bahasanya itu penuh dengan kebijaksanaan, Ia juga tidak pernah dusta.

BENTUK WAYANG

Jagalbilawa (karya Hok Gie)
Raden Bratasena bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan berjanggut, dengan berbedak di dahi, rambut terurai dan bersahaja, dihias di bagian belakangnya dengan garuda dan sunting, waderan, berkalung bulan sabit, bergelang bentuk Candrakirana, berpontoh dan berkeroncong, berkuku Pancanaka, yang merupakan kuku sakti, bercelana pendek (katok). Segala pakaian Bratasena melambangkan ketetapan hatinya. Ia beroman muka merengut (njenggureng), yang menandakan kalau ia berani demi kebenaran. Ketetapan hati Bratasena laksana gunung, tak berubah ditengah tiupan angin.
Ucapan dalang untuk melambangkan badan dan pakaian Bratasena adalah sebagai berikut:

“Alkisah, akan berjalan kesatria di Tunggulpamenang (Bratasena), setelah ia berdiri tegak, keluarlah angin kesaktiannya. Raden Bratasena waktu berjalan selalu lurus tak pernah membelok. Ia berhias: rambut terurai, berkancing sanggul garuda membelakang dengan terhias. Hal ini untuk lambang bahwa Bratasena tak samar kepada Dewa dan kejiwaannya sendiri. Pupuk di dagu, memperingatkan akan cahaya yang tampak dalam rahim Hyang Dewa Ruci (Dewa Bratasena). Sunting mas tergubah bentuk serat buah asam sebagai lambang bahwa kepandaian Bratasena disamarkan, tampak sebagai orang yang dungu.

Sunting mana tertutup dengan hiasan berbentuk bunga pandan berwarna putih, bermaksud: dimana berbau harum di bagian luar, di dalam pun wangi juga. Berpontoh bentuk buah manggis digubah kelian tempatnya, berarti bahwa ia semasa datang pada azalnya akan sempurna dengan segala-galanya, tak ada yang akan ketinggalan. Gelang Candrakirana, candra=bulan, kirana=tulisan, bermaksud bahwa kesatria Tunggulpamenang berpengetahuan tak dengan tulisan, akan terasa terang benderang tak samar-samar. Berkalung nagabanda (naga pengikat), berarti naga atau raja ular, banda= tali, untuk mengikat badan, akan lambang, bahwa Raden Bratasena di dalam perang, berkekuatan seimbang dengan kemurkaan naga, dan tak akan meninggalkan gelanggang, tak ada perkataan kalah, kekalahan Bratasena: mati. Bercawat kain poleng bang bintulu (kain berkotak-kotak empat segi lima warna). Kain ini untuk memperingat pada amarah yang lima perkara. Berikat pinggang kain cindai berumbai terlentang di atas paha kanan dan kiri, akan lambang bahwa Raden Bratasena mengetahui segala hal di antara kiri dan kanannya. Porong (barang perhiasan) terletak di atas,paha, berarti bahwa ia dapat menyimpan segala-galanya di dalam sanubari. Keroncong nagaraja membelit kaki, sebagai peringatan bahwa ia dapat bertemu dengan Ruci, setelah ia terlepas dari belitan naga. Berkuku pancanaka sepanjang lawi-lawi di tangan kanan dan kiri. Raden Bratasena sebagai lambang kekuatan dari antara kelima saudaranya, dan dapat membuka segala pengetahuan.

Tersebutlah datang angin ribut makin besar, di masa itu Raden Bratasena mengucapkan ilmu Wungkalbener dan Bandungbandawasa, pun aji Jalasengsara. Bratasena waktu berjalan diiringkan dengan lima bayu (angin); yang kehijau-hijauan kepunyaan Begawan Maenaka; angin yang kehitam-hitaman kepunyaan liman (gajah) Satubanda; angin yang kekuning-kuningan kepunyaan Raden Bratasena sendiri; angin yang keputih-putihan kepunyaan Begawan Kapiwara (Anoman).”

Waktu dalang mengucapkan ini wayang (Bratasena) sedang dicacakkan ditengah kelir, lalu dalang menjalankan gunungan dilewatkan berulang-ulang, untuk ibarat bahwa Raden Bratasena mengeluarkan angin, dengan diiringi suluk (lagu) dalang yang dapat membangkitkan rasa geram.
Topan itu bersuara menggeledek menempuh pohon kayu. Pohon kayu yang dalam akarnya patah, sedangkan yang tidak tumbang.

“Jalan Raden Bratasena lurus dan mengikuti apa kehendaknya. Lompat Raden Bratasena sejauh penglihatan gajah. Cepat sebagai kilat.”

Setelah ucapan ini, dalang lalu menjalankan wayang Bratasena berulang-ulang di kelir dengan diiringi bunyi gamelan. Jalan Bratasena diwujudkan secara meloncat satu-satu loncatan menurut lebar kelir.



Kayon SHIVA LOKA BUANA



Kayon SHIVA LOKA BUANA (kreasi Hok Gie)
Corekan by Hok Gie - Cilacap
Finish 4 April 2015

PROFIL :
Belajar membuat kayon/ gunungan kreasi dengan memadukan unsur dari wayon wayang ukur dan unsur2 Bali ( seperti garuda Wisnu Kencana ) dan unsur Hindi ( Gambar ganesha dan Tulisan OM diatas gambar bumi ) serta sedikit menambahkan Unicorn dari budaya Yunani.
Kayon Shiva Loka Buana ini mempunyai filsafah/ arti yang sangat simple. Ganesha sendiri melambangkan Dewa Kepintaran dan pengetahuan serta wawasan yang luas.
Sedangkan Garuda Wisnu Kencana sendiri melambangkan dewa yang menjaga/ melindungi. Gambar Bumi sendiri adalah kehidupan kita yng terdiri dari daratan/ tanah dan Lautan/ Air. Untuk Unicorn sendiri melambangkan Angin/ Udara...yang memberi kehidupan. Dan yg terakhir adalah Lambang OM yg tertulis dengan huruf hindi yang berarti SHIVA dan ada pula yang mengartikan TUHAN.
Kesimpulan dari semua unsur diatas bisa kita gabungkan menjadi satu.
Kayon SHIVA LOKA BUANA adalah
1. Manusia hidup didunia telah diberi oleh TUHAN dengan unsur kehidupan seperti Api, Air Udara dan tanah yang kesemuanya sangatlah berguna bagi manusia yang wajib digunakan sebaik-baiknya dan disyukuri.

2. Manusia hidup di dunia ini telah diberi ilmu pengetahuan, akal pikiran dan kepintaran oleh TUHAN yang wajib digunakan dengan sebaik-baiknya terutama untuk kepentingansesama mahkluk hidup.

3. Dalam kehidupan ini manusia akan selalu di lindungi oleh TUHAN. maka dari itu kita sebagai manusia harus selalu ingat pada TUHAN.

dari kesimpulan 1,2 dan 3 bisa kita ringkas lah bahwa;
" Semua yang ada di dunia ini ada dan tiada nya atas kehendak TUHAN, Maka jangan lah kita sebagai manusia memiliki sifat Adigang, Adigung Adiguna karena di atas kita masih ada TUHAN. Eling Lan Waspada itu lah wajib jadi pedoman yang kita pegang untuk selalu ingat dengan TUHAN.