Tampilkan postingan dengan label gunungan wayang kulit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunungan wayang kulit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

WAYANG KULIT AVATARA

WAYANG KULIT AVATARA

Wayang Kulit Avatara adalah Wayang kulit yang berbentuk/ menceritakan Penjelmaan Dewa Wisnu. 
Dalam kepercayaan Agama Hindu ada 10 Avatara/ Penjelmaan Dewa Wisnu.
Untuk kesempatan ini saya mendapat amanat dari Bapak Budi Santosa - Jember - Jawa Timur untuk mewujudkan beberapa Avatara Dewa Wisnu dalam bentuk Wayang Kulit Purwa Semi Kreasi.
Ide Beliau ini awalnya membuat saya ragu/ galau gundah gulana karena jelas kalau sudah jadi akan menimbulkan pro dan kontra apalagi yang tidak tahu cerita tentang apa itu Avatara.
Tapi setelah mendapat wejangan dan pencerahan dari beliau akhirnya saya memantapkan diri untuk membuat Wayang Avatara ini.


1. KURMA AVATARA

 
KURMA AVATARA by Hok Gie

Dalam agama hindu, Kurma adalah Awatara kedua dewa Wisnu yg berwujud Kura kura raksasa. Awatara ini muncul pada saat masa Satyayuga. Menurut kitab Adiparwa, kura kura tersebut bernama Akupa.
Menurut berbagai kitab Oyrana, Wisnu mengambil wujud seekor kura kura dan mengapung dilautan susu(Kserasagara atau Kserarmawa). Didasar laut tersebut konon terdapat harta karun dan tirta Amerta yg dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para dewa dan Asura berlomba lomba mendapatkannya.


Utk mengaduk lautan tersebut mereka membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Mandara digunakan utk mengaduknya. Para dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan Naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Kurma menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Dewa Endra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat keatas. Setelah sekian lama tirta Amerta berhasil didapat dan dewa Wisnu mengambil alih.
Kurma jg nama dari seorang resi, putra Gretsamada.
#kurmaawatara
#idebybudisantosa
#createdbyhokgie
#hokgiewayangkulit
#savewayangkulitindonesia




2. WARAHA AVATARA


WARAHA AVATARA by Hok Gie

 Waraha adalah Awatara ketiga dari dewa Wisnu yang berwujud babi hutan. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga(zaman kebenaran). Kisah mengenai Waraha Awatara selengkapnya terdapat didalam kitab Warahapurana dan Purana-purana lainnya.

Menurut mitologi Hindu, pada zaman Satyayuga ada seorang raksasa bernama Hiranyaksa, adik raksasa Hiranyakasipu. Keduanya merupakan kaum Detya(raksasa). Hiranyaksa hendak menenggelamkan pertiwi/planet Bumi kedalam "lautan kosmik" suatu tempat diantah berantah diruang angkasa.
Melihat dunia akan mengalami kiamat, Wisnu menjelma menjadi babi hutan yg memiliki dua taring panjang mencuat dgn tujuan menopang bumi yg dijatuhkan oleh Hiranyaksa. Usaha penyelamatan yg dilakukan Waraha tidak berlangsung lancar karena dihadang oleh Hiranyaksa. Maka terjadilah pertempuran sengit antara raksasa Hiranyaksa dgn dewa Wisnu. konon pertarungan ini terjadi ribuantahun yang lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya Dewa Wisnu yang menang.
Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat bumi yg bulat seperti bola dengan dua taringnya yg panjang mencuat, dari lautan kosmik dan meletakkan bumi pd orbitnya. Setelah itu dewa Wisnu menikahi Dewi Pertiwi dalam wujud Awatara tersebut.
#warahaawatara
#idebybudisantosa
#createdbyhokgie
#hokgiewayangkulit
#savewayangkulitindonesia




Kamis, 19 Mei 2016

WADYA BALA KAHYANGAN SURALAYA

1. SANG HYANG BETHARA GURU

( Interprestasi Visual Para Dewa Kahyangan Suralaya )

Corekan : Hok Gie

Kreasi   : Hok Gie

 
Sang Hyang Bethara Guru ( Kreasi Hok Gie )

 CERITA :

Batara Guru (juga disebut Bathara Guru dan Debata Batara Guru) adalah nama sesosok mahadewa dalam beberapa mitologi Indonesia. Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan terhormat" dan Guru, epitet dari Bṛhaspati, seorang Dewa Hindu yang tinggal dan diidentifikasikan dengan planet Jupiter
Menurut mitologi Jawa, Batara Guru merupakan Dewa serta pewayangan yang merajai kahyangan, wilayah para dewa. Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan mempunyai beberapa anak. Betara Guru merupakan satu-satunya wayang kulit yang digambarkan dalam posisi menghadap ke depan, ke arah manusia. Hal ini dapat dilihat dari posisi kakinya. Hanya saja karena berbentuk wayang, maka ia menghadap ke samping. Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.
Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.

Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya.[2][3][4] Orang tua mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya. Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.

Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul terjadi.

Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air tersebut beracun—lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya. Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya. Hal ini adalah salah satu upaya de-Hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan Walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa. Contoh lain adalah penyebutan Drona menjadi Durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga, dan lain-lain.
Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

Batara Sambu
Batara Brahma
Batara Indra
Batara Bayu
Batara Wisnu
Batara Ganesha
Batara Kala
Hanoman





 

 

2. SANG HYANG BETHARA NARADA

( Interprestasi Visual Para Dewa Kahyangan Suralaya )

Corekan : Hok Gie

Kreasi   : Hok Gie

Sang Hyang Bethara Narada (Kreasi Hok Gie )

CERITA :
Sang Hyang Bethara Narada dalam pewayangan, antara lain yang berkembang di Jawa, dilukiskan dengan bentuk tubuh cebol bulat, berwajah tua, dengan kepala menengadah ke atas. Dalam versi ini narada menduduki jabatan penting dalam kahyangan, yaitu sebagai penasihat dan "tangan kanan" Batara Guru, raja kahyangan versi Jawa.

Menurut naskah Paramayoga, Batara Narada adalah putra Sanghyang Caturkaneka. Ayahnya adalah sepupu Sanghyang Tunggal, ayah dari Batara Guru. Pada mulanya Narada berwujud tampan. Ia bertapa di tengah samudera sambil memegang pusaka pemberian ayahnya, bernama cupu Linggamanik. Hawa panas yang dipancarkan Narada sempat membuat kahyangan geger. Batara Guru mengirim putra-putranya untuk membangunkan Narada dari tapanya. Akan tetapi tidak seorang pun dewa yang mampu memenuhi perintah tersebut. Mereka terpaksa kembali dengan tangan hampa. Batara Guru memutuskan untuk berangkat sendiri untuk menghentikan tapa Narada. Narada pun terbangun. Keduanya kemudian terlibat perdebatan seru. Batara Guru yang merasa kalah pandai marah dan mengutuk Narada sehingga berubah wujud menjadi jelek. Sebaliknya, karena Narada telah dikutuk tanpa penyebab yang jelas, Batara Guru pun menderita cacad berlengan empat.(Sebenarnya bertangan 4 ini adalah pengejawantahan dari malaikat papat, Jibril Mikail Izrail Israfil). Ia pun sadar bahwa Narada memang lebih pandai darinya. Maka, ia pun memohon maaf dan meminta Narada supaya sudi tinggal di kahyangan sebagai penasihatnya.

Dalam pentas pedalangan, tempat tinggal Batara Narada disebut dengan nama Kahyangan Sidiudal-udal. Atau Sidik pangudal udal.
Narada (Dewanagari: नारद; IAST: Nārada) atau Narada Muni adalah seseorang yang bijaksana dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah Purana, khususnya Bhagawatapurana. Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Ia selalu membawa alat musik yang dikenal sebagai tambura, yang pada mulanya dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Dewa Wisnu atau Kresna. Dalam tradisi Waisnawa ia memiliki rasa hormat yang istimewa dalam menyanyikan nama Hari dan Narayana dan proses pelayanan didasari rasa bakti yang diperlihatkannya, dikenal sebagai bhakti yoga seperti yang dijelaskan dalam kitab yang merujuk kepadanya, yang dikenal sebagai Narad Bhakti Sutra.
Menurut legenda, Narada dipandang sebagai Manasputra, merujuk kepada kelahirannya 'dari pikiran Dewa Brahma', atau makhluk hidup pertama seperti yang digambarkan dalam alam semesta menurut Purana. Ia dihormati sebagai Triloka sanchaari, atau pengembara sejati yang mengarungi tiga dunia yaitu Swargaloka (surga), Mrityuloka (bumi) dan Patalloka (alam bawah). Ia melakukannya untuk menemukan sesuatu mengenai kehidupan dan kemakmuran orang. Ia orang pertama yang melakukan Natya Yoga. Ia juga dikenal sebagai Kalahapriya.

Narada Muni memiliki posisi penting yang istimewa di antara tradisi Waisnawa. Dalam kitab-kitab Purana, ia termasuk salah satu dari dua belas Mahajana, atau 'pemuja besar' Dewa Wisnu. Karena ia adalah gandharva dalam kehidupan dahulu sebelum ia menjadi Resi, ia berada dalam kategori Dewaresi.
Bhagawatapurana menceritakan pencerahan spiritual yang dialami Narada: Dalam kehidupannya yang dulu, Narada adalah gandarwa (sejenis malaikat) yang dikutuk agar lahir di planet bumi karena melanggar sesuatu. Maka ia kemudian lahir sebagai putera seorang pelayan yang khusus melayani pendeta suci (brahmin). Para pendeta yang berkenan dengan pelayanan Narada dan ibunya, memberkahinya dengan mengizinkannya memakan sisa makanan mereka (prasad) yang sebelumnya dipersembahkan kepada dewa mereka, yaitu Wisnu.

Perlahan-lahan Narada menerima berkah dan berkah lagi dari para pendeta tersebut, dan mendengarkan mereka memperbincangkan banyak topik mengenai spiritual. Lalu pada suatu hari, ibunya meninggal karena digigit ular, dan karena menganggap itu adalah perbuatan Dewa (Wisnu), ia memutuskan untuk pergi ke hutan demi mencari pencerahan agar memahami 'Kebenaran yang paling mutlak'.

Ketika di dalam hutan, Narada menemukan tempat yang tenang, dan setelah melepaskan dahaga dari sungai terdekat, ia duduk di bawah pohon dan bermeditasi (yoga), berkonsentrasi kepada wujud paramatma Wisnu di dalam hatinya, seperti yang pernah diajarkan oleh para pendeta yang pernah dilayaninya. Setelah beberapa lama, Narada melihat sebuah penampakan, dimana Narayana (Wisnu) muncul di depannya, tersenyum, dan berkata bahwa 'meskipun ia memiliki anugerah untuk melihat wujud tersebut pada saat itu juga, Narada tidak akan dapat melihat wujudnya (Wisnu) lagi sampai ia mati'. Narayana kemudian menjelaskan bahwa kesempatan yang diberikan agar Narada dapat melihat wujudnya disebabkan oleh keindahan dan rasa cintanya, dan akan menjadi sumber inspirasi dan membakar keinginannya yang terlelap untuk bersama sang dewa lagi. Setelah memberi tahu Narada dengan cara tersebut, Wisnu kemudian menghilang dari pandangannya. Narada bangun dari meditasinya dengan terharu sekaligus kecewa.

Selama sisa hidupnya Narada memusatkan rasa baktinya, bermeditasi, dan menyembah Wisnu. Setelah kematiannya, Wisnu menganugerahinya dengan wujud spiritual "Narada", yang kemudian dikenal banyak orang. Dalam beberapa susastra Hindu, Narada dianggap sebagai penjelmaan (awatara) dewa, dan berkuasa untuk melakukan tugas-tugas yang ajaib atas nama Wisnu.
Sumber : Sejarah Wayang Purwa.




3. SANG HYANG BETHARA ENDRA

( Interprestasi Visual Para Dewa Kahyangan Suralaya )

Corekan : Hok Gie

Kreasi   : Hok Gie 

Sang Hyang Bethara Endra ( Kreasi Hok Gie )

 

CERITA :
Sang Hyang Betara Indra adalah putra Hyang Guru. Dewa ini terhitung berkuasa di sebagian Jonggringsalaka, tempat tinggal Betara Guru yang disebut juga Kaendran. Waktu Dewa ini dilahirkan, demikian besar pengaruhnya, hingga bumi bergetar, angin meniup sangat kencang dan air laut menghempas sampai meluap kedarat. Kekuasaan Hyang Indra ialah memerintah segala Dewa atas titah Betara Guru. Maka Betara Indra pun bertanggung jawab mengenai segala sesuatu di tempat kediaman para Dewa. Ia menguasai semua bidadari di Sorga. Berkuasa menentukan hadiah-hadiah yang akan dianugerahkan kepada manusia. Karena kekuasaannya yang begitu besar, maka Betara Indra selalu menerima hal-hal yang diajukan oleh insan manusia kepada Dewa. Indra berputra dua orang putri: 1. Dewi Tara yang dianugerahkan kepada Raden Sugriwa, seorang ksatria kera, dan 2. Dewi Tari yang dianugerahkan kepada Prabu Dasamuka, Raja Raksasa di Alengka. Betara Indra bermata kedondongan (serupa buah kedondong), berhidung mancung, berbibir rapat. Bermahkota, sebagai tanda, bahwa ia adalah seorang Dewa Raja. Berkain rapekan pendeta,bersepatu. Bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Sumber : Sejarah Wayang Purwa.





4. SANG HYANG BETHARA BRAMA

( Interprestasi Visual Para Dewa Kahyangan Suralaya )

Corekan : Hok Gie

Kreasi   : Hok Gie 

Sang Hyang Bethara Brama ( Kreasi Hok Gie )

 

CERITA :
Sang Hyang Brama adalah Dewa api (brama berarti api), putra Hyang Guru. Ia bersemayam di Deksina. Karena kesaktiannya Hyang Brama dapat membasmi segala keburukan yang menjelekkan dunia ini dengan apinya. Ketika Dewa ini dilahirkan besar pengaruhnya terhadap dunia mengeluarkan api hingga menjulang ke angkasa. Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi Saraswati, putri Hyang Pancaweda yang terkenal karena sangat cantiknya. Dewa ini pernah bertakhta sebagai raja di Gilingwesi setewasnya Prabu Watugunung. Dewa yang bertakhta sebagai raja di dunia disebut ngejawantah, menampakkan diri. Suatu ketika Hyang Brama menyalahi adat-istiadat Dewa karena memihak pada Betari Durga dan bermaksud untuk memusnakan keluarga Pendawa. Kehendak Betara Brama dimufakati oleh Durga. Sampai sampai juga putri Hyang Brama, Dewi Dresanala yang diperistri oleh Arjuna, diceraikan oleh Hyang Brama. Kehendak Hyang Brama untuk memusnakan keluarga Pendawa terkabul. Malahan Hyang Brama dapat dikalahkan oleh anak Arjuna yang bernama Wisanggeni. Hyang Brama ditangkap oleh Wisanggeni dan diserahkan kepada Hyang Guru. Setibanya di hadapan Guru, Betara Brama menjadi sadar akan kekeliruannya. Ia diampuni oleh Hyang Guru dan kembali ke tempat kediaman para Dewa Kahyangan. Menurut lakon ini meski Dewa sekalipun, kalau bersalah, bisa kalahkan oleh manusia biasa. Sang Hyang Brama merupakan pangkal yang menurunkan Pendawa dan ia berbesan dengan Hyang Wisnu. Sang Hyang Brama bermata kedondongan. Berhidung sembada (serba cukup) dan berbibir rapat. Ia bermahkota, menandakan bahwa ia Dewa yang berkuasa. Ia tidak menyelipkan keris secara yang biasa dilakukan orang, melainkan diselipkannya di depan, oleh karena ia memakai haju yang menutupi bagian belakang badannya. Memakai keris semacam itu disebut yang berarti syak wasangka selalu, sehingga setiap waktu ada bahaya keris itu mudah dihunus. Memakai keris secara demikian dilarang ole penjaga kerajaan, oleh karena si pemakainya dianggap mencuri. Menurut riwayat ini nampak, bahwa Dewa sekalipun bisa mengalami masa kalahnya dalam menghadapi manusia biasa, ini menandakan bahwa kebenaranlah yang selalu menang atas perbuatan salah manusia. Selagi Hyang Guru sebagai Dewa yang tertinggi bisa mengalami kekalahannya juga terhadap manunia biasa, hal itu disebabkan kerena salahnya perbuatan.
Sumber : Sejarah Wayang Purwa.



  

5. SANG HYANG BETHARA YAMADIPATI

( Interprestasi Visual Para Dewa Kahyangan Suralaya )

Corekan : Hok Gie

Kreasi   : Hok Gie 

Sang Hyang Bethara Yamadipati ( Kreasi by Hok Gie )

CERITA :

 Sang Hyang Yamadipati adalah anak dari Semar dan Dewi Kinatri, dia memiliki istri bernama Dewi Mumpuni yang digambarkan sangat cantik. Dewi Mumpuni ini sebenarnya menikahi Sang Hyang Yamadipati dengan terpaksa sebab ia adalah istri pemberian Batara Guru untuk Sang Hyang Yamadipati. Yamadipati adalah seorang dewa yang digambarkan memiliki wajah yang menyeramkan dan memiliki tubuh yang besar dan menakutkan, bahkan jika seseorang yang melihat sosoknya dipercaya akan mendapat celaka. Arti dari namanya adalah Rajanya Neraka sebab dia bertugas menjaga neraka dan mencabut nyawa manusia yang sudah hampir mati. Ketika bertugas untuk mencabut nyawa dia membawa semacam tali tampar atau disebut juga dadhung.Suatu ketika dia diceraikan oleh istrinya Dewi Mumpuni yang kemudian menikah dengan Bambang Nagatatmala. Hati Sang Hyang Yamadipati pun sangat terluka dan ia mulai jarang pulang ke Khayangan Hargadumilah, tempat dimana ia tinggal. Dewi Mumpuni mengatakan bahwa dia terpaksa menjadi istri Yamadipati karena Ia menghormati Batara Guru. Meskipun Yamadipati merasa kecewa terhadap Dewi Mumpuni karena telah menceraikannya, Ia tetap mencoba untuk berbesar hati dan merelakan Dewi Mumpuni menikahi orang yang dicintainya. 

Pada suatu waktu ketika Yamadipati melaksanakan tugasnya mencabut nyawa darhttp://www.blogger.com/img/blank.gifi seorang manusia yang bernama Setyawan, Yamadipati sangat terkesan oleh istri Setyawan yang bernama Sawitri. Sawitri sangat mencintai suaminya sehingga ia membuat Sang Hyang Yamadipati berbelas kasihan kepadanya. Maka, Setyawan pun dibiarkannya tetap hidup dan bahagia bersama istrinya.

Sang Hyang Yamadipati merupakan potret kehidupan manusia Indonesia yang mampu berbesar hati dalam menerima sebuah keadaan. Walaupun merasa dirugikan atau tersakiti, Sang Hyang Yamadipati masih mampu untuk berbaik hati. Ini merupakan salah satu contoh sikap penyabar dan tidak memendam kekesalan. Sumber : Sejarah Wayang Purwa.






6. SANG HYANG BETHARA BAYU

( Interprestasi Visual Para Dewa Kahyangan Suralaya )

Corekan : Hok Gie

Kreasi   : Hok Gie 

Sang Hyang Bethara Bayu ( Kreasi Hok Gie )

  CERITA ;

Sang Hyang Bayu adalah Dewa angin. Dia putra Betara Guru dan berkuasa mengenyahkan seisi alam ini dengan anginnya. Tanda Dewa berjiwa bayu (angin) ialah berkain poleng (berkotak kotak) dan berkuku pancanaka pada ibu jari. Hyang Bayu mempunyai saudara-saudara tunggal-bayu, sama-sama berkekuatan angin; Yakni: 1. Sang Hanuman, 2. Wrekodara (Bratasena), 3. Wil Jajahwreka, 4. Begawan Maenaka, dan 5. Liman Satubanda, juga bernama Gajah Sena. Kalau berjalan, kelima saudara ini selalu diikuti oleh angin puyuh dan jalan mereka cepat sekali. Di dalam lakon Begawan Palasara Krama (kawin), Betara Bayu datang sebagai pemisah perselisihan paham antara Palasara dan Sentanu dalam memperebutkan kemuliaan dengan keputusan, bahwa Sentanu memilih kemuliaan di Marcapada (dunia), dan Palasara memilih kemuliaan di Kahyangan, (akhirat). Selain di dalam lakon ini, Betara Bayu juga kerapkali datang di Marcapada sebagai pemisah, apabila terjadi suatu perselisihan paham. Ketika Perang Baratayuda semakin mendekat, para Dewa turun ke negara Astina untuk memisahkan Pendewa dan Korawa yang bersengketa. Betara Bayu pun ikut turun. Namun segala daya-upaya para Dewa tak berhasil dan perang akhirnya pecah jugalah. Di dalam pewayangan, pada perang yang penghabisan yang lazim disebut perang sampak, Wrekodara (Bratasena) umumnya menyebabkan mati musuhnya. Setiap kali musuh mati, menarilah Wrekodara dan tarinya itu disebut tari tayungan. Tetapi kalau musuhnya orang Korawa, musuhnya itu tidak mati, sebab orang-orang Korawa hanya akan mati kelak dalam Perang Baratayuda. Sebelum ada Wrekodara, perang yang penghabisan ini disudahi oleh Betara Bayu. Hyang Bayu bermata telengan, berhidung dempak berkuku pancanaka. Bermahkota, berjamang tiga-susun, bersunting waderan, berpupuk, berkain poleng, menandakan Dewa ini berkesaktian angin. Hyang Bayu Dewanya Wrekodara. Maka Wrekodara pun disebut juga Bayusuta, oleh karena dipungut anak Hyang Bayu. Hanuman pun diambil anak oleh dewa mi. Maka ia juga berkain polong untuk menandakan, bahwa ia berdewa Bayu. Selain kain baju mereka yang berdewa Bayu serupa, kepala mereka juga berpupuk dan mereka pun berkuku pancanaka. Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982

Senin, 09 Mei 2016

SANG HYANG BETHARA NARADA

Bethara Narada (karya Hok Gie)


Corekan by Hok Gie

CERITA :
Narada dalam pewayangan, antara lain yang berkembang di Jawa, dilukiskan dengan bentuk tubuh cebol bulat, berwajah tua, dengan kepala menengadah ke atas. Dalam versi ini narada menduduki jabatan penting dalam kahyangan, yaitu sebagai penasihat dan "tangan kanan" Batara Guru, raja kahyangan versi Jawa.

Menurut naskah Paramayoga, Batara Narada adalah putra Sanghyang Caturkaneka. Ayahnya adalah sepupu Sanghyang Tunggal, ayah dari Batara Guru. Pada mulanya Narada berwujud tampan. Ia bertapa di tengah samudera sambil memegang pusaka pemberian ayahnya, bernama cupu Linggamanik. Hawa panas yang dipancarkan Narada sempat membuat kahyangan geger. Batara Guru mengirim putra-putranya untuk membangunkan Narada dari tapanya. Akan tetapi tidak seorang pun dewa yang mampu memenuhi perintah tersebut. Mereka terpaksa kembali dengan tangan hampa. Batara Guru memutuskan untuk berangkat sendiri untuk menghentikan tapa Narada. Narada pun terbangun. Keduanya kemudian terlibat perdebatan seru. Batara Guru yang merasa kalah pandai marah dan mengutuk Narada sehingga berubah wujud menjadi jelek. Sebaliknya, karena Narada telah dikutuk tanpa penyebab yang jelas, Batara Guru pun menderita cacad berlengan empat.(Sebenarnya bertangan 4 ini adalah pengejawantahan dari malaikat papat, Jibril Mikail Izrail Israfil). Ia pun sadar bahwa Narada memang lebih pandai darinya. Maka, ia pun memohon maaf dan meminta Narada supaya sudi tinggal di kahyangan sebagai penasihatnya.

Dalam pentas pedalangan, tempat tinggal Batara Narada disebut dengan nama Kahyangan Sidiudal-udal. Atau Sidik pangudal udal.
Narada (Dewanagari: नारद; IAST: Nārada) atau Narada Muni adalah seseorang yang bijaksana dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah Purana, khususnya Bhagawatapurana. Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Ia selalu membawa alat musik yang dikenal sebagai tambura, yang pada mulanya dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Dewa Wisnu atau Kresna. Dalam tradisi Waisnawa ia memiliki rasa hormat yang istimewa dalam menyanyikan nama Hari dan Narayana dan proses pelayanan didasari rasa bakti yang diperlihatkannya, dikenal sebagai bhakti yoga seperti yang dijelaskan dalam kitab yang merujuk kepadanya, yang dikenal sebagai Narad Bhakti Sutra.
Menurut legenda, Narada dipandang sebagai Manasputra, merujuk kepada kelahirannya 'dari pikiran Dewa Brahma', atau makhluk hidup pertama seperti yang digambarkan dalam alam semesta menurut Purana. Ia dihormati sebagai Triloka sanchaari, atau pengembara sejati yang mengarungi tiga dunia yaitu Swargaloka (surga), Mrityuloka (bumi) dan Patalloka (alam bawah). Ia melakukannya untuk menemukan sesuatu mengenai kehidupan dan kemakmuran orang. Ia orang pertama yang melakukan Natya Yoga. Ia juga dikenal sebagai Kalahapriya.

Bethara Narada (karya Hok Gie)
Narada Muni memiliki posisi penting yang istimewa di antara tradisi Waisnawa. Dalam kitab-kitab Purana, ia termasuk salah satu dari dua belas Mahajana, atau 'pemuja besar' Dewa Wisnu. Karena ia adalah gandharva dalam kehidupan dahulu sebelum ia menjadi Resi, ia berada dalam kategori Dewaresi.
Bhagawatapurana menceritakan pencerahan spiritual yang dialami Narada: Dalam kehidupannya yang dulu, Narada adalah gandarwa (sejenis malaikat) yang dikutuk agar lahir di planet bumi karena melanggar sesuatu. Maka ia kemudian lahir sebagai putera seorang pelayan yang khusus melayani pendeta suci (brahmin). Para pendeta yang berkenan dengan pelayanan Narada dan ibunya, memberkahinya dengan mengizinkannya memakan sisa makanan mereka (prasad) yang sebelumnya dipersembahkan kepada dewa mereka, yaitu Wisnu.

Perlahan-lahan Narada menerima berkah dan berkah lagi dari para pendeta tersebut, dan mendengarkan mereka memperbincangkan banyak topik mengenai spiritual. Lalu pada suatu hari, ibunya meninggal karena digigit ular, dan karena menganggap itu adalah perbuatan Dewa (Wisnu), ia memutuskan untuk pergi ke hutan demi mencari pencerahan agar memahami 'Kebenaran yang paling mutlak'.

Ketika di dalam hutan, Narada menemukan tempat yang tenang, dan setelah melepaskan dahaga dari sungai terdekat, ia duduk di bawah pohon dan bermeditasi (yoga), berkonsentrasi kepada wujud paramatma Wisnu di dalam hatinya, seperti yang pernah diajarkan oleh para pendeta yang pernah dilayaninya. Setelah beberapa lama, Narada melihat sebuah penampakan, dimana Narayana (Wisnu) muncul di depannya, tersenyum, dan berkata bahwa 'meskipun ia memiliki anugerah untuk melihat wujud tersebut pada saat itu juga, Narada tidak akan dapat melihat wujudnya (Wisnu) lagi sampai ia mati'. Narayana kemudian menjelaskan bahwa kesempatan yang diberikan agar Narada dapat melihat wujudnya disebabkan oleh keindahan dan rasa cintanya, dan akan menjadi sumber inspirasi dan membakar keinginannya yang terlelap untuk bersama sang dewa lagi. Setelah memberi tahu Narada dengan cara tersebut, Wisnu kemudian menghilang dari pandangannya. Narada bangun dari meditasinya dengan terharu sekaligus kecewa.

Selama sisa hidupnya Narada memusatkan rasa baktinya, bermeditasi, dan menyembah Wisnu. Setelah kematiannya, Wisnu menganugerahinya dengan wujud spiritual "Narada", yang kemudian dikenal banyak orang. Dalam beberapa susastra Hindu, Narada dianggap sebagai penjelmaan (awatara) dewa, dan berkuasa untuk melakukan tugas-tugas yang ajaib atas nama Wisnu.

SANG HYANG BETHARA KAMAJAYA

Sang Hyang Bethara Kamajaya (karya Hok Gie)


Corekan by Hok Gie

CERITA :

Sang Hyang Kamajaya atau Kamadewa adalah anak Semar (Hyang Ismaya) dan Dewi Sri. Ia Dewa cinta dan berparas elok sekali. Kamajaya beristrikan Dewi Kamaratih, putri Sang Hyang Resi Soma. Dewi ini sebangsa bidadari yang sangat cantiknya. Kamajaya dan Kamaratih tak pernah berpisahan.

Dewa dan Dewi ini senantiasa menjaga keselamatan umat manusia di dunia ini, terutama keluarga Pendawa. Kamajaya malahan disebut juga Dewanya Arjuna, oleh karena ia sangat sayang pada Arjuna.

Di dalam Lakon Cekel Indralaya, Arjuna menjadi pendeta dan Kamajaya datang ke Dwarawati menyamar sebagai Arjuna untuk menentang Korawa yang akan datang menggoda Dewi Wara Sumbadra, istri Arjuna.

Menurut kepercayaan orang Jawa, pada waktu seorang wanita hamil untuk pertama kalinya dan diadakan selamatan hamil tujuh bulan (Jawa: mitoni), maka disajikan juga sebuah kelapa gading yang digambar Kamajaya dan Kamaratih dengan harapan semoga mendapat berkah dari Dewa dan Dewi itu.

Sang Hyang Kamajaya bermata jaitan, berhidung mancung, dan bergigi hitam karena sisik. Berpakaian seperti Dewa, tapi pada bagian kepala tampak sebagai ksatria. Dia bersemayam di Cakrakembang tempat tersendiri bagi Kamajaya dan Kamaratih.

Bethara Kamajaya (kreasi Hok Gie)
Pada acara mitoni atau tujuh bulan (kandungan istri berusia 7 bulan), kelapa muda yg hendak dipecahkan ayah calon bayi sering dilukiskan atau dituliskan nama Kamajaya. Sebagai wujud dari buah cinta.

KAYON/ GUNUNGAN KREASI KU


1. KAYON GANESHA LOKA BAWANA
Kayon Ganesha Loka Bawana (karya Hok Gie)
Kayon Ganesha Loka Bawana (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie


2. KAYON WAHYU

Kayon Wahyu (karya Hok Gie)

Kayon Wahyu (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie


3. KAYON KLENTENG
Kayon Klenteng/ Budha (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie


4. KAYON GAPURA
Kayon Gapura (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie

5. KAYON SHIVA LOKA BUANA
Kayon Shiva Loka Buana (karya Hok Gie)

Kayon Shiva Loka Buana (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie




5. KAYON GAPURA LANGIT ( Kayon Mandarin/ Klenteng )


Kayon Gapura langit ( Kayon Sakyamuni Budha & Avalokitesvara Boddhisattva) Kreasi by Hok Gie


Kayon Gapura langit ( Kayon Sakyamuni Budha & Avalokitesvara Boddhisattva) Kreasi by Hok Gie





RADEN BIMA/ WERKUDARA


Bima (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie

CERITA :
 Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewaruci. Ia mahir bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar), dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.
Dalam pencarian jati dirinya, Bima sering diberi tugas oleh gurunya—yang sesungguhnya dihasut oleh para Korawa untuk membunuh Bima—yang terasa mustahil untuk dikerjakan, seperti mencari kayu gung susuhing angin dan air banyu perwitasari, yang akhirnya membawa Bima bertemu dengan Dewaruci.

Istri dan keturunan

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang istri dan tiga orang anak, yaitu:
  1. Dewi Nagagini, berputra (mempunyai putra bernama) Arya Anantareja,
  2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
  3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputra Srenggini.

RADEN SRI PONCOSENO

Raden Sri Poncoseno (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Sri Poncoseno adalah tokoh pewayangan yg mungkin awam bagi kita semua.Tokoh ini hanya ada di wayang kulit Banyumas.

Sri Poncoseno
Sri Poncoseno adalah putra kelima Raden Werkudara / Bima ,dari ibu Sri Giyanti putra Resi Sri Dewa dari Pertapan Cendana Wasiat.
Raden Sri Poncoseno terlahir bukan dari perkawinan normal atau pun seperti hal'y Srenggini akan tetapi Sri Poncoseno terlahir melalui ajian / ilmu Rabi Batin.Ilmu Rabi Batin adalah ilmu dimana seseorang bila menyukai lawan jenis'y dan mereka saling mencintai mereka tidaklah harus melakukan hub badan tapi hanya melalui Mimpi saja.

Sri Poncoseno
Alkisah saat Raden Werkudara sedang berguru dgn Sri Dewa,terlibat asmara dgn Dewi Sri Giyanti putri Resi Sri Dewa akan tetapi mereka berdua saling menutupi.
Nah pada saat yg sama Raden Werkudara sedang menpelajari ilmu Bayu Langgeng dan ilmu Rabi Batin...nah saat itulah Raden Werkudara Mencoba ilmu Rabi Batin tersebut dgn Dewi Sri Giyanti.
Untuk lebih jelas'y berikut ada video wayang kulit yg menceritakan tentang Raden Sri Poncoseno oleh Ki Dalang Kukuh Bayu Aji : http://www.youtube.com/watch?v=KWZwfMSFq4c&feature=share&list=PLnx-c7FWve6mDWfvc1gR0omtBRdHWRBhw .

RADEN ANTASENA

Corekan by Hok Gie

CERITA :
Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.
Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.
Raden Antasena (karya Hok Gie)
Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Baruna. Bima menikah dengan Urangayu dalam cerita Kali Serayu Binangun, yaitu saat Pandawa dan Kurawa berlomba untuk membuat sungai tembus ke samudera. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.
Saat Antasena masih dalam kandungan, Khayangan Suralaya diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwacinraka yang bemaksud untuk merebut dan menikahi Batari Kamaratih. Antasena yang masih dalam kandungan, dikeluarkan oleh Sang Hyang Narada, dan diajukan ke peperangan. Berkat perlindungan Sang Hyang Wenang, Antasena mampu mengalahkan Prabu Dewa Kintaka dan pasukannya.Setelah mampu mengalahkan kraman Antasena diserahkan kepada Sang Hyang Antaboga untuk dididik menjadi ksatria.
Raden Antasena (karya Hok Gie)
Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Saat itu para Pandawa sedang mempersiapkan pesta, karena Pandawa nomor tiga, Arjuna akan menikahkan salah satu putrinya Dewi Pergiwati, dengan putra mahkota Karajaan Amarta yaitu bernama Raden Pancawala, yang merupakan putra Pandawa nomor satu Yudhistira . Pernikahan antar saudara sepupu tersebut nyaris gagal karena ulah Begawan Durna yang berniat untuk menjodohkah Pergiwati dengan putra mahkota Hastina, Raden Lesmana Mandrakumara. Berkat bantuan Antasena, Pancawala berhasil melarikan Pergiwati dan terlindungi dari amukan Kurawa. Setelah kejadian tersebut Arjuna akhirnya sadar, dan meresmikan pernikahan Pancawala dengan Pergiwati.
Beberapa tahun setelah pernikahan antara Pancawala dengan Pergiwati, Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati yang juga putri Arjuna.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.
Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata

Raden Antasena (karya Hok Gie)
Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.
Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.

RADEN SRENGGINI


Raden Srenggini 1 (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap
Raden Srenggini 2 (karya Hok Gie)
CERITA :
Srenggini adalah anak keempat raden Werkudara dgn ibu Rekatawati
yg berwujud Kepiting putri dari Dewa Rekatatama.

Pada suatu waktu ketika Raden Bratasena berpisah dengan Dewi Urang Ayu, ibu Antasena,
Raden Werkudara mengeluarkan Kama/mani yang ia kibaskan ke pasir dipinggir pantai.

Dan ketika itu Dewi Rekatawati mencari makan …
tanpa disengaja meminum kama Bratasena yang jatuh
karena tidak bisa bersenggama dengan Dewi Urang Ayu.
Raden Srenggini 3 (karya Hok Gie)


Kelak kejadian ini akan melahirkan 2 ksatria yang tangguh …
yaitu Raden Antasena dan Raden Srenggini.
Raden Antasena Putra raden Bratasena (Bima) dengan dewi Urang Ayu
Sedangkan Raden Srenggini anak Bratasena Dengan Dewi Rekatawati.

Antasena berjalan tidak seperti layaknya manusia lain,
dia berjalan dengan tangan selalu di belakang tubuh.

Hal ini karena tangan Antasena sangat berat …
karena di tangannnya bersemayam ari-ari dan air ketubannya …
(kadang papat kalima pancer)
Karena itu pula dalam versi Banyumas Antasena kalau berperang …
tidak pernah menyentuh musuhnya, tetapi hanya menggerakkan tangannya saja.
Raden Srenggini 4 (karya Hok Gie)

dan musuhnya bergerak mengikuti gerakan tangan Antasena …
(kaprabawan/ Di sengat setrum).
Selain itu Antasena mempunyai upas (racun) yang namanya upas Anta.

Raden Srenggini 5 (karya hok Gie)
Sedangkan Srenggini berjalan miring layaknya Kepiting
(Wayang Srenggini mirip Antasena wajahnya tetapi tidak bergelung winangkara …
dan mempunyai Capit di kepalanya).
Dia memiliki kekuatan yang namanya aji Totoksewu.

SANG HYANG MANIKMAYA/ BETHARA GURU

Bethara Guru 1 ( Karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Batara Guru (juga disebut Bathara Guru dan Debata Batara Guru) adalah nama sesosok mahadewa dalam beberapa mitologi Indonesia. Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan terhormat" dan Guru, epitet dari Bṛhaspati, seorang Dewa Hindu yang tinggal dan diidentifikasikan dengan planet Jupiter

Bethara Guru 2 (Karya Hok Gie)

Menurut mitologi Jawa, Batara Guru merupakan Dewa serta pewayangan yang merajai kahyangan, wilayah para dewa. Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan mempunyai beberapa anak. Betara Guru merupakan satu-satunya wayang kulit yang digambarkan dalam posisi menghadap ke depan, ke arah manusia. Hal ini dapat dilihat dari posisi kakinya. Hanya saja karena berbentuk wayang, maka ia menghadap ke samping. Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.
Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.

Bethara Guru 3 (Karya Hok Gie)
Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya.[2][3][4] Orang tua mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya. Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.

Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul terjadi.

Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air tersebut beracun—lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya. Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya. Hal ini adalah salah satu upaya de-Hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan Walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa. Contoh lain adalah penyebutan Drona menjadi Durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga, dan lain-lain.
Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

Batara Sambu
Batara Brahma
Batara Indra
Batara Bayu
Batara Wisnu
Batara Ganesha
Batara Kala
Hanoman

Minggu, 08 Mei 2016

RADEN BRATASENA

Raden Bratasena (Karya hok Gie)
Ide Kreasi by Hok Gie- Cilacap
Corekan by Sanggar Wayang Gogon - Solo

CERITA :
Raden Bratasena adalah anggota Pandawa yang kedua, putra Prabu Pandu. Bratasena bernama juga Bima dan Bayusuta atau putra angkat Betara Bayu. Setelah dewasa ia bernama Wrekudara, bertahta di Jodipati, sebagai sebagai raja.
Bratasena tidak pernah memakai bahasa halus pada siapa pun juga, bahkan terhadap Dewa, dia juga menggunakan bahasa, kasar. Selama hidupnya hanya sekali, ia berbahasa halus (atau krama) yaitu ketika ia bertemu dengan Dewa Ruci. Seorang dewa yang berukuran kerdil, yang dianggapnya sebagai yang dewa sejati. Tetapi walaupun kasar, bahasanya itu penuh dengan kebijaksanaan, Ia juga tidak pernah dusta.

BENTUK WAYANG

Jagalbilawa (karya Hok Gie)
Raden Bratasena bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan berjanggut, dengan berbedak di dahi, rambut terurai dan bersahaja, dihias di bagian belakangnya dengan garuda dan sunting, waderan, berkalung bulan sabit, bergelang bentuk Candrakirana, berpontoh dan berkeroncong, berkuku Pancanaka, yang merupakan kuku sakti, bercelana pendek (katok). Segala pakaian Bratasena melambangkan ketetapan hatinya. Ia beroman muka merengut (njenggureng), yang menandakan kalau ia berani demi kebenaran. Ketetapan hati Bratasena laksana gunung, tak berubah ditengah tiupan angin.
Ucapan dalang untuk melambangkan badan dan pakaian Bratasena adalah sebagai berikut:

“Alkisah, akan berjalan kesatria di Tunggulpamenang (Bratasena), setelah ia berdiri tegak, keluarlah angin kesaktiannya. Raden Bratasena waktu berjalan selalu lurus tak pernah membelok. Ia berhias: rambut terurai, berkancing sanggul garuda membelakang dengan terhias. Hal ini untuk lambang bahwa Bratasena tak samar kepada Dewa dan kejiwaannya sendiri. Pupuk di dagu, memperingatkan akan cahaya yang tampak dalam rahim Hyang Dewa Ruci (Dewa Bratasena). Sunting mas tergubah bentuk serat buah asam sebagai lambang bahwa kepandaian Bratasena disamarkan, tampak sebagai orang yang dungu.

Sunting mana tertutup dengan hiasan berbentuk bunga pandan berwarna putih, bermaksud: dimana berbau harum di bagian luar, di dalam pun wangi juga. Berpontoh bentuk buah manggis digubah kelian tempatnya, berarti bahwa ia semasa datang pada azalnya akan sempurna dengan segala-galanya, tak ada yang akan ketinggalan. Gelang Candrakirana, candra=bulan, kirana=tulisan, bermaksud bahwa kesatria Tunggulpamenang berpengetahuan tak dengan tulisan, akan terasa terang benderang tak samar-samar. Berkalung nagabanda (naga pengikat), berarti naga atau raja ular, banda= tali, untuk mengikat badan, akan lambang, bahwa Raden Bratasena di dalam perang, berkekuatan seimbang dengan kemurkaan naga, dan tak akan meninggalkan gelanggang, tak ada perkataan kalah, kekalahan Bratasena: mati. Bercawat kain poleng bang bintulu (kain berkotak-kotak empat segi lima warna). Kain ini untuk memperingat pada amarah yang lima perkara. Berikat pinggang kain cindai berumbai terlentang di atas paha kanan dan kiri, akan lambang bahwa Raden Bratasena mengetahui segala hal di antara kiri dan kanannya. Porong (barang perhiasan) terletak di atas,paha, berarti bahwa ia dapat menyimpan segala-galanya di dalam sanubari. Keroncong nagaraja membelit kaki, sebagai peringatan bahwa ia dapat bertemu dengan Ruci, setelah ia terlepas dari belitan naga. Berkuku pancanaka sepanjang lawi-lawi di tangan kanan dan kiri. Raden Bratasena sebagai lambang kekuatan dari antara kelima saudaranya, dan dapat membuka segala pengetahuan.

Tersebutlah datang angin ribut makin besar, di masa itu Raden Bratasena mengucapkan ilmu Wungkalbener dan Bandungbandawasa, pun aji Jalasengsara. Bratasena waktu berjalan diiringkan dengan lima bayu (angin); yang kehijau-hijauan kepunyaan Begawan Maenaka; angin yang kehitam-hitaman kepunyaan liman (gajah) Satubanda; angin yang kekuning-kuningan kepunyaan Raden Bratasena sendiri; angin yang keputih-putihan kepunyaan Begawan Kapiwara (Anoman).”

Waktu dalang mengucapkan ini wayang (Bratasena) sedang dicacakkan ditengah kelir, lalu dalang menjalankan gunungan dilewatkan berulang-ulang, untuk ibarat bahwa Raden Bratasena mengeluarkan angin, dengan diiringi suluk (lagu) dalang yang dapat membangkitkan rasa geram.
Topan itu bersuara menggeledek menempuh pohon kayu. Pohon kayu yang dalam akarnya patah, sedangkan yang tidak tumbang.

“Jalan Raden Bratasena lurus dan mengikuti apa kehendaknya. Lompat Raden Bratasena sejauh penglihatan gajah. Cepat sebagai kilat.”

Setelah ucapan ini, dalang lalu menjalankan wayang Bratasena berulang-ulang di kelir dengan diiringi bunyi gamelan. Jalan Bratasena diwujudkan secara meloncat satu-satu loncatan menurut lebar kelir.