Tampilkan postingan dengan label tuguwasesa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tuguwasesa. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2016

RADEN BIMA/ WERKUDARA


Bima (karya Hok Gie)
Corekan by Hok Gie

CERITA :
 Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewaruci. Ia mahir bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar), dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.
Dalam pencarian jati dirinya, Bima sering diberi tugas oleh gurunya—yang sesungguhnya dihasut oleh para Korawa untuk membunuh Bima—yang terasa mustahil untuk dikerjakan, seperti mencari kayu gung susuhing angin dan air banyu perwitasari, yang akhirnya membawa Bima bertemu dengan Dewaruci.

Istri dan keturunan

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang istri dan tiga orang anak, yaitu:
  1. Dewi Nagagini, berputra (mempunyai putra bernama) Arya Anantareja,
  2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
  3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputra Srenggini.

TUGUWASESA/ PRABU GILINGWESI


Prabu Tuguwasesa atau Gilingwesi (karya Hok Gie)

Corekan by Hok Gie - Cilacap

CERITA :
Di Kerajaan Gilingwesi yang berkuasa Prabu Tuguwasesa dihadap putranya yakni Antasena, ia bermaksud menaklukkan Kerajaan Astina. Segera memerintahkan seluruh balatentaranya pergi ke Astina, setelah tiba terus melakukan penyerangan. Prabu Suyudana tidak kuat melawan musuh maka melarikan diri dengan Dewi Banowati. Demikian juga Karna dengan istrinya, Surtikanti juga ditangkap dan dipenjara di Gilingwesi.
Sementara itu Suyudana terluka di bawah pohon beringin di hutan, tiba-tiba Arjuna, Gatotkaca dan Angkawijaya datang bersama Samba dan Setyaki. Mereka memberikan pertolongan kepada Suyudana. Selanjutnya raja Astina itu bersama istrinya dibawa ke Mandura oleh Samba dan Setyaki untuk mencari tempat yang aman. Para raksasa utusan Antasena datang menyerang tetapi dapat diusir oleh Angkawijaya dan Gatotkaca.
Antasena mengetahui bahwa tentaranya terbunuh segera maju ke medan perang dan kena panah Arjuna terlempar jauh. Selanjutnya ketiga ksatria itu menuju ke Gilingwesi, disana Angkawijaya dapat memikat Antawati adik Antasena. Sedangkan Arjuna membebaskan Adipati Karna dan Dewi Surtikanti serta dapat memikat para istri raja yakni: Dewi Nawangsih, Nawang Wulan, Nawang Kencana, dan Nawang Resmi yang kemudian dibawanya ke Mandura.
Prabu Gilingwesi/ Tuguwasesa(karya Hok Gie)

Arjuna melepaskan panah pada mahkota Tuguwasesa dan berubah ujud Bima, sedangkan Anoman kembali ke Kendalisada. Demikian juga Antasena dipeluk Gatotkaca karena sebagai senopati.